create your own banner at mybannermaker.com!
Tampilkan postingan dengan label euro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label euro. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2016

The King Of Europe / Raja Eropa

The King Of Europe / Raja Eropa

Analisa Laga Perancis versus Portugal "The King of King" Final Euro 2016
11 Juli 2016

oleh Aven Januar

Pertandingan Terbaik ! Demikian headline koran pagi ini. Para penggemar sepakbola sejagat yang hampir sebulan ini menikmati berbagai kejutan yang lahir dari tiap babak pertandingan Euro. Mempercayai bahwa partai final euro 2016 sebagai pertandingan terbaik diantara keseluruhan pertandingan yang ada di euro 2016 ini.

"The King of King Match"
Pertandingan secara umum mengaburkan pandangan banyak pengamat sepakbola yang mengganggap bahwa partai final hanya milik Perancis. Begitu impresifnya penampilan Perancis pada babak sebelumnya dan ketergantungan yang tinggi Portugal pada sosok Cristiano Ronaldo menjadi latar belakang analisa para pengamat tersebut.
Tetapi Portugal ternyata membalikkan prediksi banyak pengamat, si banteng merah ini mampu bermain lepas, mampu menahan serangan cepat ala Perancis dengan baik, serta mampu juga melakukan serangan balik dengan cepat dan cermat. Kesemuanya dilakukan dengan pergerakan antar lini yang baik.

Perancis 'Superb Attack Tactics'

Perancis, yang sebelum pertandingan jauh lebih diunggulkan dalam partai final kali ini. Sejak formasi awal diumumkan 45 menit sebelum pertandingan, terlihat Perancis telah menyiapkan gelombang serangan bertubi-tubi di setiap sudut pertahanan Portugal. Giroud yang dipasang sebagai penyerang tunggal ditopang 3 gelandang serang yang haus gol, Griezmann, Pogba dan Sissoko. Dari keempat pemain itulah aliran penyerangan Perancis tercipta, pola serangan yang dinamis dan terencana baik dari kiri kanan maupun tengah. Berdasar catatan akhir gelaran Euro 2016, melalui keempat penyerangnya ini Perancis menjadi tim tersubur diantara kontestan euro lainnya,  dengan 13 gol yang berhasil dicetak. Alhasil saat partai final, penyerang Perancis pun berhasil menciptakan 8 peluang krusial yang berpeluang tercetaknya gol. Serta 7 peluang yang melenceng dari tiang gawang. Seandainya, Rui Patricio - Kiper Portugal tidak bermain cemerlang malam final lalu, maka penyerang-penyerang Perancis bisa melesakkan setidaknya lebih dari 3 gol ke gawang Portugal. Sehingga banyak pengamat bola yang memberikan angka 9 untuk taktik penyerangan Perancis.

Portugal 'Superb Defense Tactics'

Selain Italia dengan sistem pertahanan gerendelnya, ternyata malam final euro 2016, Portugal menyajikan sebuah sistem pertahanan zona marking yang lebih ketat dan terencana dibanding kontestan euro lainnya. Dibawah mistar berdiri sosok Rui Patricio,  pemain Sporting Lisbon ini bermain cemerlang dan layak merebut gelar pemain terbaik pada partai final euro 2016. Rui Patricio berhasil melakukan 7 kali penyelamatan krusial, dimulai dari sundulan kepala Griezmann hingga tendangan keras sissoko di sudut tiang jauh. Kiper dengan tinggi 183 cm ini berhasil menghalau setiap tendangan yang mengarah ke gawang. Walaupun masih seumur jagung sebagai kiper timnas Portugal ini, tetapi Rui mampu menunjukkan kualitasnya sebagai kiper terbaik euro tahun ini, mengalahkan beberapa nama senior seperti Buffon, Neuer dan Hugo Lloris.

Didepan Rui, ada Pepe, Fonte, Gueirerro, dan Cedric Soares. Keempat bek itu ditopang oleh si 'tukang angkut air' Joao Mario. Khusus Joao Mario ini, penulis mencatat setidaknya ada 8 kali dari 16 kali upaya merebut bola yang dilakukannya. Dan itu menorehkan tinta emas sebagai pemain 'tukang angkut air' terbaik di euro 2016 ini. Joao Mario menjelajah setiap sudut dari sisi tengah Perancis.

Portugal "Its Miracle"

Portugal layak disebut sebagai tim yang penuh kejutan, 'Its Miracle'. Perjalanan Portugal melaju ke babak Final ini bisa dibilang cukup unik dan penuh dengan kejutan. Karena Ronaldo dkk tak pernah meraih kemenangan di waktu normal sebelum laga semifinal mengalahkan Wales dengan skor 2-0. Portugal yang datang sebagai tim yang kurang diunggulkan, terlihat tampil kurang greget di fase penyisihan. Mereka hanya bisa meraih tiga pertandingan dengan hasil imbang. Untungnya Portugal bisa lolos ke babak 16 besar dengan predikat peringkat 3 terbaik. Dari babak 16 besar Portugal berhasil menyingkirkan Kroasia dengan skor 0-1 di babak perpanjangan waktu. Masuk ke babak 8 besar lagi-lagi keberuntungan nampak menaungi Portugal. Bermain imbang 0-0 hingga babak perpanjangan waktu, Portugal berhasil mengalahkan Polandia di Drama adu pinalti.

Pada partai final euro 2016 pun, langkah kejutan Portugal belum berhenti. Sosok Cristiano Ronaldo atau CR7 yang diharap mampu menjadi penggedor lini depan Portugal. Sejak menit ke 15 CR7 yang diganjal dengan keras oleh Giroud tak mampu bermain normal. Sampai di menit ke 25 pun, santos terpaksa menarik CR7 keluar dan diganti oleh Ricardo Quaresma. Publik bola pun memprediksi dengan ditarik keluarnya 'keajaiban' Portugal, CR7 , dipastikan Portugal akan bermain super defensif. Tapi pada fakta lapangannya berbeda, meskipun masih tampak kecenderungan bertahan, tapi Portugal mampu memberikan serangan balik dengan cepat dan cermat. Setiap lini mampu bermain dengan determinasi tinggi. Nani, menjadi sosok sentral lini depan usai CR7 keluar, mampu memberi kejutan dengan beberapa peluang emasnya. Bahkan dengan masuknya Eder di menit ke 79, tingkat serangan Portugal semakin meninggi. Hingga 'Its Miracle' Portugal datang di menit 109, diawali pergerakan Joao Moutinho disisi tengah dalam pertahanan Perancis memberikan bola matang pada Eder. Diperkirakan  eder akan memberikan umpan disudut tiang jauh pada Nani yang telah lepas dari pengawalan. Tapi prediksi itu meleset, Eder justru memberikan sepakan keras di sudut kanan kiper, sehingga lloris pun sempat terkejut dan gagal menahan laju deras bola. Gol.

Selamat kepada Portugal yang menjadi Jawara di gelaran 'king of the europe 2016'
Selamat kepada Perancis yang juga telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik hingga berakhir dan sukses tanpa adanya gangguan keamanan yang berarti.

The King Of Europe / Raja Eropa

The King Of Europe / Raja Eropa

Analisa Laga Perancis versus Portugal "The King of King" Final Euro 2016
11 Juli 2016

oleh Aven Januar

Pertandingan Terbaik ! Demikian headline koran pagi ini. Para penggemar sepakbola sejagat yang hampir sebulan ini menikmati berbagai kejutan yang lahir dari tiap babak pertandingan Euro. Mempercayai bahwa partai final euro 2016 sebagai pertandingan terbaik diantara keseluruhan pertandingan yang ada di euro 2016 ini.

"The King of King Match"
Pertandingan secara umum mengaburkan pandangan banyak pengamat sepakbola yang mengganggap bahwa partai final hanya milik Perancis. Begitu impresifnya penampilan Perancis pada babak sebelumnya dan ketergantungan yang tinggi Portugal pada sosok Cristiano Ronaldo menjadi latar belakang analisa para pengamat tersebut.
Tetapi Portugal ternyata membalikkan prediksi banyak pengamat, si banteng merah ini mampu bermain lepas, mampu menahan serangan cepat ala Perancis dengan baik, serta mampu juga melakukan serangan balik dengan cepat dan cermat. Kesemuanya dilakukan dengan pergerakan antar lini yang baik.

Perancis 'Superb Attack Tactics'

Perancis, yang sebelum pertandingan jauh lebih diunggulkan dalam partai final kali ini. Sejak formasi awal diumumkan 45 menit sebelum pertandingan, terlihat Perancis telah menyiapkan gelombang serangan bertubi-tubi di setiap sudut pertahanan Portugal. Giroud yang dipasang sebagai penyerang tunggal ditopang 3 gelandang serang yang haus gol, Griezmann, Pogba dan Sissoko. Dari keempat pemain itulah aliran penyerangan Perancis tercipta, pola serangan yang dinamis dan terencana baik dari kiri kanan maupun tengah. Berdasar catatan akhir gelaran Euro 2016, melalui keempat penyerangnya ini Perancis menjadi tim tersubur diantara kontestan euro lainnya,  dengan 13 gol yang berhasil dicetak. Alhasil saat partai final, penyerang Perancis pun berhasil menciptakan 8 peluang krusial yang berpeluang tercetaknya gol. Serta 7 peluang yang melenceng dari tiang gawang. Seandainya, Rui Patricio - Kiper Portugal tidak bermain cemerlang malam final lalu, maka penyerang-penyerang Perancis bisa melesakkan setidaknya lebih dari 3 gol ke gawang Portugal. Sehingga banyak pengamat bola yang memberikan angka 9 untuk taktik penyerangan Perancis.

Portugal 'Superb Defense Tactics'

Selain Italia dengan sistem pertahanan gerendelnya, ternyata malam final euro 2016, Portugal menyajikan sebuah sistem pertahanan zona marking yang lebih ketat dan terencana dibanding kontestan euro lainnya. Dibawah mistar berdiri sosok Rui Patricio,  pemain Sporting Lisbon ini bermain cemerlang dan layak merebut gelar pemain terbaik pada partai final euro 2016. Rui Patricio berhasil melakukan 7 kali penyelamatan krusial, dimulai dari sundulan kepala Griezmann hingga tendangan keras sissoko di sudut tiang jauh. Kiper dengan tinggi 183 cm ini berhasil menghalau setiap tendangan yang mengarah ke gawang. Walaupun masih seumur jagung sebagai kiper timnas Portugal ini, tetapi Rui mampu menunjukkan kualitasnya sebagai kiper terbaik euro tahun ini, mengalahkan beberapa nama senior seperti Buffon, Neuer dan Hugo Lloris.

Didepan Rui, ada Pepe, Fonte, Gueirerro, dan Cedric Soares. Keempat bek itu ditopang oleh si 'tukang angkut air' Joao Mario. Khusus Joao Mario ini, penulis mencatat setidaknya ada 8 kali dari 16 kali upaya merebut bola yang dilakukannya. Dan itu menorehkan tinta emas sebagai pemain 'tukang angkut air' terbaik di euro 2016 ini. Joao Mario menjelajah setiap sudut dari sisi tengah Perancis.

Portugal "Its Miracle"

Portugal layak disebut sebagai tim yang penuh kejutan, 'Its Miracle'. Perjalanan Portugal melaju ke babak Final ini bisa dibilang cukup unik dan penuh dengan kejutan. Karena Ronaldo dkk tak pernah meraih kemenangan di waktu normal sebelum laga semifinal mengalahkan Wales dengan skor 2-0. Portugal yang datang sebagai tim yang kurang diunggulkan, terlihat tampil kurang greget di fase penyisihan. Mereka hanya bisa meraih tiga pertandingan dengan hasil imbang. Untungnya Portugal bisa lolos ke babak 16 besar dengan predikat peringkat 3 terbaik. Dari babak 16 besar Portugal berhasil menyingkirkan Kroasia dengan skor 0-1 di babak perpanjangan waktu. Masuk ke babak 8 besar lagi-lagi keberuntungan nampak menaungi Portugal. Bermain imbang 0-0 hingga babak perpanjangan waktu, Portugal berhasil mengalahkan Polandia di Drama adu pinalti.

Pada partai final euro 2016 pun, langkah kejutan Portugal belum berhenti. Sosok Cristiano Ronaldo atau CR7 yang diharap mampu menjadi penggedor lini depan Portugal. Sejak menit ke 15 CR7 yang diganjal dengan keras oleh Giroud tak mampu bermain normal. Sampai di menit ke 25 pun, santos terpaksa menarik CR7 keluar dan diganti oleh Ricardo Quaresma. Publik bola pun memprediksi dengan ditarik keluarnya 'keajaiban' Portugal, CR7 , dipastikan Portugal akan bermain super defensif. Tapi pada fakta lapangannya berbeda, meskipun masih tampak kecenderungan bertahan, tapi Portugal mampu memberikan serangan balik dengan cepat dan cermat. Setiap lini mampu bermain dengan determinasi tinggi. Nani, menjadi sosok sentral lini depan usai CR7 keluar, mampu memberi kejutan dengan beberapa peluang emasnya. Bahkan dengan masuknya Eder di menit ke 79, tingkat serangan Portugal semakin meninggi. Hingga 'Its Miracle' Portugal datang di menit 109, diawali pergerakan Joao Moutinho disisi tengah dalam pertahanan Perancis memberikan bola matang pada Eder. Diperkirakan  eder akan memberikan umpan disudut tiang jauh pada Nani yang telah lepas dari pengawalan. Tapi prediksi itu meleset, Eder justru memberikan sepakan keras di sudut kanan kiper, sehingga lloris pun sempat terkejut dan gagal menahan laju deras bola. Gol.

Selamat kepada Portugal yang menjadi Jawara di gelaran 'king of the europe 2016'
Selamat kepada Perancis yang juga telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik hingga berakhir dan sukses tanpa adanya gangguan keamanan yang berarti.

Sabtu, 02 Juli 2016

The Match will Never Ends / Pertandingan tiada akhir


The Match will Never Ends
/ Pertandingan tiada akhir

Analisa Laga Jerman versus Italia
'Big Match' Perempatfinal Euro 2016
2 Juli 2016

oleh Aven Januar

Pertandingan yang sarat emosi antara Jerman versus Italia pada laga perempatfinal euro 2016, Sabtu 2 Juli 2016 semalam, harus berakhir dengan kemenangan Jerman 1-1 ( 6-5.pk). Pertandingan berjalan sesuai dengan ekspetasi tinggi dari pengamat dan pecinta bola diseluruh kolong jagat ini. Permainan penuh determinasi tinggi, skill mumpuni antar kedua tim serta laga sarat emosional.

Italia 'Superb Defense Tactics'

Italia, tim yang sedikit lebih diunggulkan, menunjukkan sebagai tim dengan pertahanan terbaik di euro 2016 ini. Banyak pengamat bola memberikan skor 8,5 untuk pertahanan Italia semalam. Dibawah mistar, berdiri sosok tinggi besar yang sarat pengalaman, Gianluigi Buffon, semalam sedang dalam performa terbaiknya. Setidaknya ada 5 peluang emas Jerman yang berhasil digagalkan oleh reflek cepat Buffon dalam mengantisipasi derasnya laju bola. 

Di depan Buffon, ada trio bek Juventus, Barzagli, Chielini dan Bonucci, telah berhasil menjadi tembok pertahanan yang kuat layaknya 'The Great Wall' China. Trio ini berkomunikasi dengan baik dalam menahan laju serangan tim panser, baik komunikasi pergerakan antar ruang hingga siapa mengantisipasi siapa. Duet Striker Jerman, Mario Gomez dan Thomas Muller seakan kehabisan akal dan tak diberi kesempatan untuk menciptakan gol. Bahkan Loew, setidaknya mengubah 4 sampai 5 kali perubahan posisi antar pemain lini depan. Gomez dari kiri ke kanan, Muller ditarik sedikit ke belakang, mendorong sayap kanan dan kiri untuk kearah tiang jauh hingga yang terakhir mendorong duet gelandang ozil dan kimmich ke depan.

Jerman 'Superb Midfield Tactics'

Sejak menit awal, Loew telah memberikan kejutan dengan perubahan formasi, dari formasi klasik penyerangan 4-2-3-1 menjadi 3-4-1-2, memberikan gambaran bagi para pengamat, bahwa loew tidak mau melepas bola di lapangan tengah. Terbukti, semalam Jerman dilapangan tengah berhasil memainkan ball position jauh lebih baik daripada pencipta tiki taka ball position, Spanyol. Midfield Jerman, Bermain 'touching ball' atau satu dua sentuhan di bola, ternyata bisa mereduksi determinasi pemain cepat Italia, Giacherrini maupun Florenzi. Salah satu kunci kemenangan penyerangan Jerman, walaupun lini depan gagal mencetak gol, tapi pemain tengah Jerman semalam layak diberi skor 9. Perubahan dari pola bertahan 3-4-1-2 berubah menjadi 4-3-3 saat menyerang dengan cepat membuat barisan tengah Italia seakan kedodoran dan kebingungan, menahbiskan Loew sebagai Best Tactician di perhelatan akbar tahun ini.

Jerman 'The Champs'

Jauh sebelum pelaksanaan Euro 2016, banyak pengamat yang memprediksi kalopun Jerman diberi kesempatan untuk menjadi kampiun di perhelatan kali ini adalah karena Jerman memiliki mental juara yang kuat. Memasuki perpanjangan waktu, pemain muda Italia bermain penuh emosional, setiap pergerakan cepat pemain Jerman dihadang dengan tackling keras dan cepat. Secara umum, permainan keras Italia bisa mereduksi kecepatan serangan Jerman termasuk diantaranya adalah penguasaan bola Jerman di lini tengah. Bahkan dalam fase perpanjang waktu, Italia berhasil mencuri 3 kali peluang serangan balik dari tengah ke depan, membuat jantung pendukung Jerman bergetar hebat. Tapi sekali lagi, - Jerman is the champ ! Jerman is the Winner ! - seperti yang diteriakkan loew jelang perpanjangan waktu dimulai. 


Pemain muda Jerman tidak terpancing membalas perlakuan kasar dan keras Italia. Bahkan Beberapa pemain senior yang di lapangan pun seperti sang kapten Schewini, Gomez dan Oezil berhasil memberikan contoh juga untuk tidak membalas perlakuan kasar dan keras Italia. Seandainya semalam pertandingan dimenangkan oleh Italia, maka pada babak semifinal, Italia tidak akan diperkuat beberapa pemain kuncinya seperti Sciglio dan Pelle dikarenakan akumulasi kartu kuning.


Memasuki fase adu penalti, yang mana sejak penendang pertama hingga ke tujuh Jerman tak sekalipun berhasil memimpin skor pertandingan, paling hebat Jerman hanya mampu menyamakan kedudukan, tapi petaka Italia berakhir di penendang kedelapan dan kesembilan. Performa Manuel Neuer pun tak bisa dipandang sebelah mata di babak tos tosan tersebut. Dianggap jauh lebih junior daripada Buffon, tapi penampilannya semalam, Neuer berhasil menahbiskannya sebagai pemain terbaik dalam  partai Big Match tersebut. Tapi inilah Jerman sang raja Turnamen dan tim yang selalu memiliki mental juara.

Sekali lagi selamat untuk Jerman !

Kamis, 30 Juni 2016

Kombinasi Hijau untuk hormati pemain Muslim di Timnas Jerman

Kombinasi Hijau untuk hormati pemain Muslim di Timnas Jerman

oleh Aven Januar

Dalam menyambut Euro 2016, Jerman yang disponsori Adidas mengeluarkan seragam kandang dengan warna tradisional timnas sebelumnya. Warna yang dipilih, putih sebagai dasar, dan hitam di bagian leher serta ujung lengan, dan sisi baju. Di samping itu terdapat logo juara Piala Dunia di bagian dada. Ditambah empat bintang, tanda empat gelar Piala Dunia di atas logo DFB.

Sementara itu, untuk jersey away, Jerman sedikit kontroversial. Mereka memakai warna yang cukup ‘menyakitkan mata’ sekilas. Di bagian depan, terdapat gegaris horizontal warna abu-abu dan hitam. Sementara bagian lengan diberi warna hijau, dengan ujung lengan berwarna hitam.

Kisah menarik adalah warna hijau di lengan, konon pihak DFB bermaksud menghormati 4 pemain beragama Islam yang berada di timnas Jerman di Euro 2016, yakni :

1. Emre Can – bek – Liverpool
2. Shkodran Mustafi – bek – Valencia
3. Sami Khedira – gelandang – Juventus
4. Mesut Ozil – gelandang – Arsenal

Serta penghormatan terhadap puluhan pemain muslim yang saat ini juga bermain di timnas Jerman di berbagai jenjang usia.

Pihak DFB juga mengikuti perkembangan isu rasialis yang sering terjadi di lapangan sepakbola. Sejak pertengahan 2014, DFB sepakat dan telah mensosialisasikan pada seluruh klub untuk bersama-sama memerangi isu rasialis di lapangan bola dalam bentuk apapun. Tidak sekedar hijau, kombinasi gegaris abu-abu dan hitam juga dalam maksud menghormati seluruh ras dan suku bangsa yang terlibat dalam kebersamaan di dunia sepakbola.

Kombinasi hijau ini adalah semangat DFB untuk bersama-sama membangun kebersamaan dalam lapangan bola termasuk diantaranya menghormati pemain muslim. DFB juga tak lupa saat Euro 2016 berlangsung pun berada di tengah bulan ramadhan.

Selasa, 28 Juni 2016

Catenaccio Ala Conte


Catenaccio Soccer ala Conte saat kontra Spanyol

oleh Aven Januar

Pertahanan rapat alias catenaccio jadi Salah satu faktor kemenangan Italia atas Spanyol pada laga perdelapan final Senin, 27 Juni 2016 lalu. Pertandingan yang disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan terbaik di Euro 2016 sejauh ini hingga pertandingan perdelapan final. Berhasil membalikkan beragam prediksi sebelum pertandingan  dengan argumen bahwa gaya defensif Italia dan permainan berbasis penguasaan bola ala Spanyol akan membuat pertandingan ini membosankan.

Dalam game ini , Conte mengubah starting line up dikarenakan Antonio Candreva cedera dengan memainkan Mattia De Scigglio. Sementara pada tim yang berbeda Vicente Del Bosque memainkan susunan tim yang sana dalamnempat pertandingan beruntun. Memberi peluang pada Conte untuk menilik kelemahan yang dalam atas pertahanan Spanyol.

Conte berhasil redam pergerakan Iniesta dan Fabregas

Formula permainan Spanyol berbasis pada kreatifitas lini tengah mereka, dengan berpusat pada kreativitas Iniesta dan Fabregas. Berdua menjadi keeator untuk membuka pertahanan lawan dengan umpan-umpan pendek dan membuka ruang pergerakan yang cepat. Dibelakang mereka berdua, peran sentral dipegang Sergio Busquets persis di depan lini pertahanan adalah untuk mempertahankan alir bola dari belakang ke depan maupun sebaliknya. Serta berfungsi mempertahankan arah dan pola serangan Spanyol.

Setiap lawan yang dihadapi Spanyol, mengalami masalah yang pelik dalam mematikan ketiga pemain tersebut. Sehingga tampak bagi penggemar bola maupun pengamat memprediksi Spanyol menjadi salah satu tim unggulan dalam Piala Eropa tahun ini.

Akan tetapi Antonio Conte berhasil memperhatikan keunggulan Spanyol itu selama setahun belakangan. Yang mana Del Bosque termasuk jenis pelatih yang moderat terhadap pola permainan maupun pilihan pemain yang digunakan menjalankan skemanya. Alhasil, Italia berhasil menghentikan alur bola ke depan yang dilakukan oleh trio pemain tengah Spanyol itu. Busquets seakan sulit mendapatkan bola dan pergerakannya jarang terlihat apik seperti di pertandingan sebelumnya. Sementara Fabregas dan Iniesta hanya mampu mengalirkan bola ke samping tanpa bisa memberikan tusukan berarti ke tengah pertahanan Italia. Pada paruh waktu babak pertama, Ramos dan Pique mencoba mengubahnya dengan umpan-umpan jauh tapi itupun gagal, karena berhasil dihalau oleh pemain tengah Italia.

Italia sukses dengan Catenaccio modern

Trio pertahanan Italia, Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Girgio Chiellini berhasil tampil solid. Permainan pola bertahan Catenaccio tidak sekedar sistem defensif semata tapi Conte memodifikasi dengan sistem yang lebih terstruktur dan solid antar lini Italia. Trio pertahanan Italia benar - benar tenang saat berada dibawah tekanan dan mampu memberikan umpan-umpan yang terukur jauh kedepan atau bahkan nyaman untuk menddrible bola hingga ke garis tengah lawan. Disisi lain Spanyol sebagai Juara Bertahan justru gagal menampilkan permainan mental juara yang jauh lebih baik. Pemain tengah maupun belakang Spanyol pun sulit keluar dari tekanan dari serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Italia. Kematangan seorang Iniesta pun mampu tereduksi oleh kecepatan gelandang mungil Italia, Giaccherini.

Pelle dan Eder

Hampir selama satu dekade ini, lini depan Italia dihuni oleh Penyerang Tengah yang glamor di kolong jagat, seperti Francesco Totti, Filippo Inzaghi, Alberto Gilardino hingga Alessandro Del Piero.
Saat ini, Italia hanya punya Graziano Pelle dan Eder, nama yang lumayan terkenal tapi belum mampu menggetarkan dada para tifosi Italia diseluruh dunia. Tetapi pola permainan direct pass ternyata sangat tepat dengan naluri menyerang mereka berdua. Pelle dan Eder selalu tepat pada in position untuk menerima bola dari belakang. Dalam game melawan Spanyol hanya belasan kali saja, mereka berdua Out Position dalam menerima bola. Alhasil, mereka berdua menciptakan 5 shot on target di babak pertama.
Conte memaksa dua sayapnya mampu berlari menyerang dari kedua sisi lapangan, baik  Mattia De Sciglo di kiri dan Florenzi di kanan. Kedua sayap itu harus bermain kreatif untuk menciptakan opsi penyerangan yang lebih lebar sehingga tidak bertemu dengan pertahanan Spanyol yang cenderung menyempit ditengah. Dan tentu melalui kedua sayap itulah , Pelle maupun Eder memiliki banyak peluang untuk menggedor pertahanan Spanyol.
Selain faktor sayap, Pelle dan Eder menjadi kedua belah yang saling menumpu, keduanya sangat solid dalam menciptakan peluang di depan. Pelle dalam satu fase waktu bisa memberikan umpan pada Eder dalam tujuh hingga sembilan kali kesempatan. Termasuk diantaranya umpan tumit yang brillian yang membuat Eder fight one on ne dengan David De Gea. Tetapi Spanyol memiliki kiper yang bermain luar biasa saat melawan Italia, De Gea on fire !sehingga brilliannya aksi Pelle dan Eder hanya mampu menciptakan dua gol saja. Andaikan De Gea tidak on fire malam itu, maka setidaknya ada 5 peluang on target Italia yang bisa dikonversi menjadi gol.
Pelle menjadi pemain terbaik dalam pertandingan ini. Pelle terus berlari dan terus menciptakan peluang. Dan sangat pantas akhirnya mendapat gol indah di akhir pertandingan.

Conte ciptakan total football ala Italia

Kekuatan terbesar dari tim Italia yang dibawa Conte adalah kemampuan mereka untuk bekerjasama dan bekerja satu sama lain. Conte sepanjang pertandingan berteriak hanya beberapa kata saja, yakni, "Bersatu, serangan bersatu, bertahan bersatu!".
Conte membuat timnya benar-benaf terlatih dengan baik. Mereka menyadari mereka bukan pemain bintang, tidak ada kata lain memaksa mereka bermain sebagai satu tim.

Lini Depan Spanyol kehilangan ruh

Sementara itu, lini depan Spanyol seperti kehilangan ruhnya di laga ini. Iniesta dan Fabregas sering mendapatkan bola tetapi gagal untuk memberikannya kepada trio lini depan La Roja; David Silva, Alvaro Morata, dan Nolito. Bahkan ketika mereka memasukkan Aritz Aduriz – yang, menurut Del Bosque, bisa menjadi target man untuk membuat Iniesta bisa bermain lebih dekat dengan gawang ,  Italia mampu menggagalkan taktik mereka. Spanyol tak mengganti formasi dan skema sejak awal permainan itu adalah bencana, karena Italia memiliki pelatih cerdas sekelas Conte.