Selasa, 29 Juni 2021
THANKS MR JOACHIM LOEW
Rabu, 23 Juni 2021
Jerman Lebih Unggul Melawan Inggris.
Selasa, 05 Juni 2018
Rusia , Geliat "Serigala Merah"
Rusia geliat "serigala merah"
oleh Aven Januar
Salam Olahraga,
Hanya tinggal beberapa hari lagi Kick Off Piala Dunia 2018 akan segera digelar. Seluruh pasang mata penggemar sepakbola akan dipusatkan pada gelaran 4 tahunan tersebut. Tuan Rumah Rusia juga telah berbenah, dengan menghadirkan stadion berkapasitas besar dengan keindahan ala khas Eropa Timur. Beberapa stadion bahkan sengaja dibangun di spot spot daerah pegunungan yang berhawa sejuk dan indah. Sebagai tuan rumah, prestasi tertinggi merupakan sebuah kebanggaan negeri yang disebut sebagai surga-nya Eropa Timur ini.
Jika kita bedah lini perlini kekuatan timnas Rusia ini berintikan kombinasi pemain muda dan tua yang kenyang pengalaman internasional. Dan yang oleh rakyat Rusia sendiri dan juga diamini oleh sejumlah pengamat bola, ini adalah komposisi terbaik yang dimiliki rusia sejak tiga dekade terakhir.
Dimulai dari kandidat kiper terbaik di dunia Igor Akinfeev yang berasal dari Klub CSKA. Berbadan tinggi besar khas olahragawan Rusia, mampu menciptakan ruang tembak yang sempit bagi penyerang lawan. Gerakan antisipasi melompatnya, mengingatkan orang kepada kiper terbaik didunia era 60an asal Uni Sovyet, Lev Yashin. Igor saat ini menjadi kekuatan yang menakutkan bagi penyerang lawan.
Didepan Igor berjajar pemain bertahan berkualitas diatas rata rata dan berbadan tinggi besar. Diantaranya Ilya Kutepov (spartak), Mario Fernandes (CSKA) dan Igor Smolnikov (Zenit).
Barisan tengah Rusia menyimpan pemain muda yang memiliki kecepatan tinggi, Yuri Zhirkov, Andrei Golovin dan Denis Cheryshev. Pemain berkecepatan lari tinggi itu memantapkan pola bermain Rusia dari kaki ke kaki yang bertenaga. Melalui pergerakan sayapnya ini, Rusia berharap mencetak gol dari lini kedua. Dan ingin mempertontonkan permainan cepat, cantik dan bertenaga.
Dibarisan depan ada penyerang Rusia yang patut diperhitungkan tim lawan dengan catatan terbaiknya yakni Artem Dzuba dari klub Arsenal Tula. Biasa bermain sebagai penyerang tunggal dan mengandalkan tendangan keras kaki kirinya cukup membahayakan bagi gawang tim lawan. Dua penyerang lainnya, Alexei Miranchuk (Locomotiv) dan Fyodor Smolov (Krasnodar) juga biasa bermain sebagai penyerang tunggal.
Dengan komposisi diatas, Rusia menargetkan Juara. Akan tetapi saya memberi penilaian optimis bagi Rusia, 16 besar adalah target yang realistis yang harus dicapai terlebih dahulu. Selanjutnya tergantung seberapa kuat mental pemain, mental bermain dan tim secara keseluruhan menghadapi tekanan bermain dihadapan publik sendiri. Jika berhasil, bukan tidak mungkin Rusia memberikan kejutan di gelaran Piala Dunia kali ini.
Tulisan Besok
"Jerman sang Jawara Sejati"
Jumat, 16 Desember 2016
Total Football ala Riedl
Total Football ala Riedl
oleh Aven Januar
Sepanjang gelaran Piala AFF 2016, Tim Nasional Indonesia yang diarsiteki oleh Alfred Riedl seakan menjadi singa lapar yang selalu mengalami trend naik dan bermain over comeback (lambat panas).
Kecerdikan Alfred Riedl meracik strategi pantas disaluti. Arsitek asal Austria tersebut pintar membaca permainan. Ia jeli melihat sejumlah kelemahan Tim lawan.
Riedl memahami rendahnya kualitas skill pemain Indonesia. Catatan Riedl sebelum turnamen, skill Indonesia hanya sedikit diatas filipina dan malaysia. Tapi masih dibawah Thailand dan Vietanam. Hal ini yang menjadi pr besar bagi pelatih senior yang sudah berpindah pindah menangani beberapa tim nasional termasuk diantaranya adalah lawan Indonesia - Vietnam.
Pada beberapa gelaran pertandingan persahabatan sebelum Piala AFF, termasuk saat uji coba dengan Malaysia. Indonesia yang rata-rata pemain Indonesia bertubuh pendek tapi memiliki kecepatan dan determinasi tinggi, Riedl memberi sentuhan 'Total Football Tactics'.
Taktik ini di negeri asalnya yakni Belanda, biasa digunakan oleh tim yang memiliki skill individu antar pemain yang tinggi. Serta pergerakan pemain yang cepat dan sulit diantisipasi dalam mendukung kinerja antar ruang untuk melakukan penyerangan maupun pertahanan.
Kebutuhan Timnas Indonesia, menurut Riedl adalah bagaimana mengolah kelebihan pemain Indonesia yang memiliki kecepatan tapi disisi lain cukup rendah dalam skill individu. Maka terciptalah Total Football ala Indonesia dari sentuhan tangan Alfred Riedl. Sepuluh Pemain Indonesia - minus Kiper- diminta untuk berdiri tidak terlalu jauh satu sama lain.
Setiap bola bergerak disetiap ruang (dalam latihan sepakbola dipergunakan ukuran 3 x 3 m) akan diisi 2 - 3 pemain, yang bertugas mengawal pergerakan bola beserta pemain lawan ketika lawan yang menguasai bola dengan tujuan mempermudah melakukan blocking pass ataupun blocking sector. Begitupula sebaliknya ketika timnas Indonesia yang menguasai bola, dengan 2-3 pemain timnas disetiap ruang, maka bisa mempermudah pemain untuk melakukan kombinasi passing, wall pass ataupun direct pass.
Terkait dengan rendahnya skill dan tingginya determinasi, kekuatan pola penyerangan riedl ditumpukan pada sektor sayap Indonesia. Di kiri ada Rizki Pora dan di kanan ada Andik Vermansyah. Keduanya memiliki skill diatas rata rata pemain Indonesia khususnya soal kecepatan dan dribbling. Keduanya diberi tugas untuk mengangkat bola ketengah , memberikan umpan matang bagi striker klasik Indonesia, yakni Boaz Salossa.
Di Sektor depan, Riedl yang memilih walaupun Boaz secara kecepatan sudah menurun jauh dibanding era 7 - 8 tahun yang lalu. Tapi riedl menyadari hanya Boaz yang memiliki mental penyerang yang baik saat dibawah tekanan didepan gawang. 3 gol yang tercipta dari kaki Boaz sepanjang gelaran AFF 2016 adalah bukti gol yang sulit menghindar dari tekanan pemain lawan. Dibantu penyerang lubang dan pengendali harmonisasi disektor tengah, Riedl memilih pemain yang berpengalaman merumput di liga eropa, yakni stefano lilipaly. Jika Irfan Bachdim diberi ijin oleh klubnya bermain di gelaran AFF tahun ini, maka riedl akan diberi opsi kombinasi penyerang lebih banyak.
Dari sektor Kiper, Riedl selalu memilih kiper yang memiliki pengalaman lebih tinggi dari kiper yang lainnya. Kurnia Meiga adalah pilihan tepat bagi Riedl, pada 2 gelaran AFF sebelumnya kurnia meiga telah tampil pada pemain utama maupun pemain pelapis.
Pada sektor belakang, Riedl menyimpan kombinasi pemain belakang bertubuh lebih besar daripada kebanyakan pemain bek Indonesia lainnya. Yanto Basna yang secara skill tidak terlalu tinggi tapi memiliki ketenangan yang baik khususnya saat menghadapi tekanan lawan. Basna dikombinasi dengan Fachrudin - salah satu bek tengah yang bermain pada gelaran AFF sebelumnya. Fachrudin bagi riedl adalah nyawa bagi jantung pertahanan Indonesia, memiliki skill dan kecepatan antisipasi yang tinggi. Sesekali berkombinasi dengan Hansamu, bek tengah yang memiliki skill heading yang tinggi, baik dalam antisipasi bola bola atas bahkan termasuk 2 gol yang tercipta dari kepala Hansamu adalah bukti Hansamu adalah bek prospektif bagi Timnas Indonesia untuk 3 - 5 tahun mendatang.
Pada sektor bek sayap, Riedl memilih pemain belakang yang memiliki determinasi tinggi kedepan. Benny Wahyudi di sektor kanan dan Abduh Lestaluhu di sektor kiri. Keduanya tidak memiliki pelapis di cadangan, maka jika salah satu cedera Riedl memilih menarik Manahati Lestusen ke sayap atau terpaksa menarik Dedi Kusnandar - pemain tengah yang memiliki naluri dan antisipasi pertahanan yang baik juga.
Sektor tengah selain sayap tak tergantikan Rizki Pora dan Andik Vermansyah, ada juga jenderal palsu atau false general, yang diterapkan oleh Riedl dalam Total Footballnya untuk merusak konsentrasi pemain lawan. Yakni Bayu Pradana, dengan skillnya yang pas pasan, Riedl menempatkannya sebagai false general seakan akan playmaker. Tapi sewaktu waktu bisa beralih fungsi menjadi tukang angkut air yang memiliki daya jelajah tinggi. Ada 2 pemain pelapisnya yang juga disiapkan bermain false general, yakni bayu gatra dan dedi kusnandar. Tapi keduanya belum banyak diberi kesempatan bermain oleh riedl.
Secara keseluruhan, itulah taktik total football Riedl yang mengaku skill pemain Indonesia masih jauh dibawah Thailand dan Vietnam. Tapi Riedl telah menciptakan taktik untuk mengatasi kesenjangan skill tersebut dengan permainan cepat antar ruang, permainan satu-dua sentuhan, direct passing dan yang terakhir adalah totalitas seluruh pemain dalam melakukan penyerangan dan pertahanan secara bersama-sama.
Jumat, 15 Juli 2016
The King Of Europe / Raja Eropa
The King Of Europe / Raja Eropa
Analisa Laga Perancis versus Portugal "The King of King" Final Euro 2016
11 Juli 2016
oleh Aven Januar
Pertandingan Terbaik ! Demikian headline koran pagi ini. Para penggemar sepakbola sejagat yang hampir sebulan ini menikmati berbagai kejutan yang lahir dari tiap babak pertandingan Euro. Mempercayai bahwa partai final euro 2016 sebagai pertandingan terbaik diantara keseluruhan pertandingan yang ada di euro 2016 ini.
"The King of King Match"
Pertandingan secara umum mengaburkan pandangan banyak pengamat sepakbola yang mengganggap bahwa partai final hanya milik Perancis. Begitu impresifnya penampilan Perancis pada babak sebelumnya dan ketergantungan yang tinggi Portugal pada sosok Cristiano Ronaldo menjadi latar belakang analisa para pengamat tersebut.
Tetapi Portugal ternyata membalikkan prediksi banyak pengamat, si banteng merah ini mampu bermain lepas, mampu menahan serangan cepat ala Perancis dengan baik, serta mampu juga melakukan serangan balik dengan cepat dan cermat. Kesemuanya dilakukan dengan pergerakan antar lini yang baik.
Perancis 'Superb Attack Tactics'
Perancis, yang sebelum pertandingan jauh lebih diunggulkan dalam partai final kali ini. Sejak formasi awal diumumkan 45 menit sebelum pertandingan, terlihat Perancis telah menyiapkan gelombang serangan bertubi-tubi di setiap sudut pertahanan Portugal. Giroud yang dipasang sebagai penyerang tunggal ditopang 3 gelandang serang yang haus gol, Griezmann, Pogba dan Sissoko. Dari keempat pemain itulah aliran penyerangan Perancis tercipta, pola serangan yang dinamis dan terencana baik dari kiri kanan maupun tengah. Berdasar catatan akhir gelaran Euro 2016, melalui keempat penyerangnya ini Perancis menjadi tim tersubur diantara kontestan euro lainnya, dengan 13 gol yang berhasil dicetak. Alhasil saat partai final, penyerang Perancis pun berhasil menciptakan 8 peluang krusial yang berpeluang tercetaknya gol. Serta 7 peluang yang melenceng dari tiang gawang. Seandainya, Rui Patricio - Kiper Portugal tidak bermain cemerlang malam final lalu, maka penyerang-penyerang Perancis bisa melesakkan setidaknya lebih dari 3 gol ke gawang Portugal. Sehingga banyak pengamat bola yang memberikan angka 9 untuk taktik penyerangan Perancis.
Portugal 'Superb Defense Tactics'
Selain Italia dengan sistem pertahanan gerendelnya, ternyata malam final euro 2016, Portugal menyajikan sebuah sistem pertahanan zona marking yang lebih ketat dan terencana dibanding kontestan euro lainnya. Dibawah mistar berdiri sosok Rui Patricio, pemain Sporting Lisbon ini bermain cemerlang dan layak merebut gelar pemain terbaik pada partai final euro 2016. Rui Patricio berhasil melakukan 7 kali penyelamatan krusial, dimulai dari sundulan kepala Griezmann hingga tendangan keras sissoko di sudut tiang jauh. Kiper dengan tinggi 183 cm ini berhasil menghalau setiap tendangan yang mengarah ke gawang. Walaupun masih seumur jagung sebagai kiper timnas Portugal ini, tetapi Rui mampu menunjukkan kualitasnya sebagai kiper terbaik euro tahun ini, mengalahkan beberapa nama senior seperti Buffon, Neuer dan Hugo Lloris.
Didepan Rui, ada Pepe, Fonte, Gueirerro, dan Cedric Soares. Keempat bek itu ditopang oleh si 'tukang angkut air' Joao Mario. Khusus Joao Mario ini, penulis mencatat setidaknya ada 8 kali dari 16 kali upaya merebut bola yang dilakukannya. Dan itu menorehkan tinta emas sebagai pemain 'tukang angkut air' terbaik di euro 2016 ini. Joao Mario menjelajah setiap sudut dari sisi tengah Perancis.
Portugal "Its Miracle"
Portugal layak disebut sebagai tim yang penuh kejutan, 'Its Miracle'. Perjalanan Portugal melaju ke babak Final ini bisa dibilang cukup unik dan penuh dengan kejutan. Karena Ronaldo dkk tak pernah meraih kemenangan di waktu normal sebelum laga semifinal mengalahkan Wales dengan skor 2-0. Portugal yang datang sebagai tim yang kurang diunggulkan, terlihat tampil kurang greget di fase penyisihan. Mereka hanya bisa meraih tiga pertandingan dengan hasil imbang. Untungnya Portugal bisa lolos ke babak 16 besar dengan predikat peringkat 3 terbaik. Dari babak 16 besar Portugal berhasil menyingkirkan Kroasia dengan skor 0-1 di babak perpanjangan waktu. Masuk ke babak 8 besar lagi-lagi keberuntungan nampak menaungi Portugal. Bermain imbang 0-0 hingga babak perpanjangan waktu, Portugal berhasil mengalahkan Polandia di Drama adu pinalti.
Pada partai final euro 2016 pun, langkah kejutan Portugal belum berhenti. Sosok Cristiano Ronaldo atau CR7 yang diharap mampu menjadi penggedor lini depan Portugal. Sejak menit ke 15 CR7 yang diganjal dengan keras oleh Giroud tak mampu bermain normal. Sampai di menit ke 25 pun, santos terpaksa menarik CR7 keluar dan diganti oleh Ricardo Quaresma. Publik bola pun memprediksi dengan ditarik keluarnya 'keajaiban' Portugal, CR7 , dipastikan Portugal akan bermain super defensif. Tapi pada fakta lapangannya berbeda, meskipun masih tampak kecenderungan bertahan, tapi Portugal mampu memberikan serangan balik dengan cepat dan cermat. Setiap lini mampu bermain dengan determinasi tinggi. Nani, menjadi sosok sentral lini depan usai CR7 keluar, mampu memberi kejutan dengan beberapa peluang emasnya. Bahkan dengan masuknya Eder di menit ke 79, tingkat serangan Portugal semakin meninggi. Hingga 'Its Miracle' Portugal datang di menit 109, diawali pergerakan Joao Moutinho disisi tengah dalam pertahanan Perancis memberikan bola matang pada Eder. Diperkirakan eder akan memberikan umpan disudut tiang jauh pada Nani yang telah lepas dari pengawalan. Tapi prediksi itu meleset, Eder justru memberikan sepakan keras di sudut kanan kiper, sehingga lloris pun sempat terkejut dan gagal menahan laju deras bola. Gol.
Selamat kepada Portugal yang menjadi Jawara di gelaran 'king of the europe 2016'
Selamat kepada Perancis yang juga telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik hingga berakhir dan sukses tanpa adanya gangguan keamanan yang berarti.
The King Of Europe / Raja Eropa
The King Of Europe / Raja Eropa
Analisa Laga Perancis versus Portugal "The King of King" Final Euro 2016
11 Juli 2016
oleh Aven Januar
Pertandingan Terbaik ! Demikian headline koran pagi ini. Para penggemar sepakbola sejagat yang hampir sebulan ini menikmati berbagai kejutan yang lahir dari tiap babak pertandingan Euro. Mempercayai bahwa partai final euro 2016 sebagai pertandingan terbaik diantara keseluruhan pertandingan yang ada di euro 2016 ini.
"The King of King Match"
Pertandingan secara umum mengaburkan pandangan banyak pengamat sepakbola yang mengganggap bahwa partai final hanya milik Perancis. Begitu impresifnya penampilan Perancis pada babak sebelumnya dan ketergantungan yang tinggi Portugal pada sosok Cristiano Ronaldo menjadi latar belakang analisa para pengamat tersebut.
Tetapi Portugal ternyata membalikkan prediksi banyak pengamat, si banteng merah ini mampu bermain lepas, mampu menahan serangan cepat ala Perancis dengan baik, serta mampu juga melakukan serangan balik dengan cepat dan cermat. Kesemuanya dilakukan dengan pergerakan antar lini yang baik.
Perancis 'Superb Attack Tactics'
Perancis, yang sebelum pertandingan jauh lebih diunggulkan dalam partai final kali ini. Sejak formasi awal diumumkan 45 menit sebelum pertandingan, terlihat Perancis telah menyiapkan gelombang serangan bertubi-tubi di setiap sudut pertahanan Portugal. Giroud yang dipasang sebagai penyerang tunggal ditopang 3 gelandang serang yang haus gol, Griezmann, Pogba dan Sissoko. Dari keempat pemain itulah aliran penyerangan Perancis tercipta, pola serangan yang dinamis dan terencana baik dari kiri kanan maupun tengah. Berdasar catatan akhir gelaran Euro 2016, melalui keempat penyerangnya ini Perancis menjadi tim tersubur diantara kontestan euro lainnya, dengan 13 gol yang berhasil dicetak. Alhasil saat partai final, penyerang Perancis pun berhasil menciptakan 8 peluang krusial yang berpeluang tercetaknya gol. Serta 7 peluang yang melenceng dari tiang gawang. Seandainya, Rui Patricio - Kiper Portugal tidak bermain cemerlang malam final lalu, maka penyerang-penyerang Perancis bisa melesakkan setidaknya lebih dari 3 gol ke gawang Portugal. Sehingga banyak pengamat bola yang memberikan angka 9 untuk taktik penyerangan Perancis.
Portugal 'Superb Defense Tactics'
Selain Italia dengan sistem pertahanan gerendelnya, ternyata malam final euro 2016, Portugal menyajikan sebuah sistem pertahanan zona marking yang lebih ketat dan terencana dibanding kontestan euro lainnya. Dibawah mistar berdiri sosok Rui Patricio, pemain Sporting Lisbon ini bermain cemerlang dan layak merebut gelar pemain terbaik pada partai final euro 2016. Rui Patricio berhasil melakukan 7 kali penyelamatan krusial, dimulai dari sundulan kepala Griezmann hingga tendangan keras sissoko di sudut tiang jauh. Kiper dengan tinggi 183 cm ini berhasil menghalau setiap tendangan yang mengarah ke gawang. Walaupun masih seumur jagung sebagai kiper timnas Portugal ini, tetapi Rui mampu menunjukkan kualitasnya sebagai kiper terbaik euro tahun ini, mengalahkan beberapa nama senior seperti Buffon, Neuer dan Hugo Lloris.
Didepan Rui, ada Pepe, Fonte, Gueirerro, dan Cedric Soares. Keempat bek itu ditopang oleh si 'tukang angkut air' Joao Mario. Khusus Joao Mario ini, penulis mencatat setidaknya ada 8 kali dari 16 kali upaya merebut bola yang dilakukannya. Dan itu menorehkan tinta emas sebagai pemain 'tukang angkut air' terbaik di euro 2016 ini. Joao Mario menjelajah setiap sudut dari sisi tengah Perancis.
Portugal "Its Miracle"
Portugal layak disebut sebagai tim yang penuh kejutan, 'Its Miracle'. Perjalanan Portugal melaju ke babak Final ini bisa dibilang cukup unik dan penuh dengan kejutan. Karena Ronaldo dkk tak pernah meraih kemenangan di waktu normal sebelum laga semifinal mengalahkan Wales dengan skor 2-0. Portugal yang datang sebagai tim yang kurang diunggulkan, terlihat tampil kurang greget di fase penyisihan. Mereka hanya bisa meraih tiga pertandingan dengan hasil imbang. Untungnya Portugal bisa lolos ke babak 16 besar dengan predikat peringkat 3 terbaik. Dari babak 16 besar Portugal berhasil menyingkirkan Kroasia dengan skor 0-1 di babak perpanjangan waktu. Masuk ke babak 8 besar lagi-lagi keberuntungan nampak menaungi Portugal. Bermain imbang 0-0 hingga babak perpanjangan waktu, Portugal berhasil mengalahkan Polandia di Drama adu pinalti.
Pada partai final euro 2016 pun, langkah kejutan Portugal belum berhenti. Sosok Cristiano Ronaldo atau CR7 yang diharap mampu menjadi penggedor lini depan Portugal. Sejak menit ke 15 CR7 yang diganjal dengan keras oleh Giroud tak mampu bermain normal. Sampai di menit ke 25 pun, santos terpaksa menarik CR7 keluar dan diganti oleh Ricardo Quaresma. Publik bola pun memprediksi dengan ditarik keluarnya 'keajaiban' Portugal, CR7 , dipastikan Portugal akan bermain super defensif. Tapi pada fakta lapangannya berbeda, meskipun masih tampak kecenderungan bertahan, tapi Portugal mampu memberikan serangan balik dengan cepat dan cermat. Setiap lini mampu bermain dengan determinasi tinggi. Nani, menjadi sosok sentral lini depan usai CR7 keluar, mampu memberi kejutan dengan beberapa peluang emasnya. Bahkan dengan masuknya Eder di menit ke 79, tingkat serangan Portugal semakin meninggi. Hingga 'Its Miracle' Portugal datang di menit 109, diawali pergerakan Joao Moutinho disisi tengah dalam pertahanan Perancis memberikan bola matang pada Eder. Diperkirakan eder akan memberikan umpan disudut tiang jauh pada Nani yang telah lepas dari pengawalan. Tapi prediksi itu meleset, Eder justru memberikan sepakan keras di sudut kanan kiper, sehingga lloris pun sempat terkejut dan gagal menahan laju deras bola. Gol.
Selamat kepada Portugal yang menjadi Jawara di gelaran 'king of the europe 2016'
Selamat kepada Perancis yang juga telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik hingga berakhir dan sukses tanpa adanya gangguan keamanan yang berarti.