Selasa, 29 Juni 2021
THANKS MR JOACHIM LOEW
Rabu, 23 Juni 2021
Jerman Lebih Unggul Melawan Inggris.
Jumat, 20 November 2020
Ricky Yakobi , You Are The Legend
Selasa, 05 Juni 2018
Rusia , Geliat "Serigala Merah"
Rusia geliat "serigala merah"
oleh Aven Januar
Salam Olahraga,
Hanya tinggal beberapa hari lagi Kick Off Piala Dunia 2018 akan segera digelar. Seluruh pasang mata penggemar sepakbola akan dipusatkan pada gelaran 4 tahunan tersebut. Tuan Rumah Rusia juga telah berbenah, dengan menghadirkan stadion berkapasitas besar dengan keindahan ala khas Eropa Timur. Beberapa stadion bahkan sengaja dibangun di spot spot daerah pegunungan yang berhawa sejuk dan indah. Sebagai tuan rumah, prestasi tertinggi merupakan sebuah kebanggaan negeri yang disebut sebagai surga-nya Eropa Timur ini.
Jika kita bedah lini perlini kekuatan timnas Rusia ini berintikan kombinasi pemain muda dan tua yang kenyang pengalaman internasional. Dan yang oleh rakyat Rusia sendiri dan juga diamini oleh sejumlah pengamat bola, ini adalah komposisi terbaik yang dimiliki rusia sejak tiga dekade terakhir.
Dimulai dari kandidat kiper terbaik di dunia Igor Akinfeev yang berasal dari Klub CSKA. Berbadan tinggi besar khas olahragawan Rusia, mampu menciptakan ruang tembak yang sempit bagi penyerang lawan. Gerakan antisipasi melompatnya, mengingatkan orang kepada kiper terbaik didunia era 60an asal Uni Sovyet, Lev Yashin. Igor saat ini menjadi kekuatan yang menakutkan bagi penyerang lawan.
Didepan Igor berjajar pemain bertahan berkualitas diatas rata rata dan berbadan tinggi besar. Diantaranya Ilya Kutepov (spartak), Mario Fernandes (CSKA) dan Igor Smolnikov (Zenit).
Barisan tengah Rusia menyimpan pemain muda yang memiliki kecepatan tinggi, Yuri Zhirkov, Andrei Golovin dan Denis Cheryshev. Pemain berkecepatan lari tinggi itu memantapkan pola bermain Rusia dari kaki ke kaki yang bertenaga. Melalui pergerakan sayapnya ini, Rusia berharap mencetak gol dari lini kedua. Dan ingin mempertontonkan permainan cepat, cantik dan bertenaga.
Dibarisan depan ada penyerang Rusia yang patut diperhitungkan tim lawan dengan catatan terbaiknya yakni Artem Dzuba dari klub Arsenal Tula. Biasa bermain sebagai penyerang tunggal dan mengandalkan tendangan keras kaki kirinya cukup membahayakan bagi gawang tim lawan. Dua penyerang lainnya, Alexei Miranchuk (Locomotiv) dan Fyodor Smolov (Krasnodar) juga biasa bermain sebagai penyerang tunggal.
Dengan komposisi diatas, Rusia menargetkan Juara. Akan tetapi saya memberi penilaian optimis bagi Rusia, 16 besar adalah target yang realistis yang harus dicapai terlebih dahulu. Selanjutnya tergantung seberapa kuat mental pemain, mental bermain dan tim secara keseluruhan menghadapi tekanan bermain dihadapan publik sendiri. Jika berhasil, bukan tidak mungkin Rusia memberikan kejutan di gelaran Piala Dunia kali ini.
Tulisan Besok
"Jerman sang Jawara Sejati"
Jumat, 16 Desember 2016
Total Football ala Riedl
Total Football ala Riedl
oleh Aven Januar
Sepanjang gelaran Piala AFF 2016, Tim Nasional Indonesia yang diarsiteki oleh Alfred Riedl seakan menjadi singa lapar yang selalu mengalami trend naik dan bermain over comeback (lambat panas).
Kecerdikan Alfred Riedl meracik strategi pantas disaluti. Arsitek asal Austria tersebut pintar membaca permainan. Ia jeli melihat sejumlah kelemahan Tim lawan.
Riedl memahami rendahnya kualitas skill pemain Indonesia. Catatan Riedl sebelum turnamen, skill Indonesia hanya sedikit diatas filipina dan malaysia. Tapi masih dibawah Thailand dan Vietanam. Hal ini yang menjadi pr besar bagi pelatih senior yang sudah berpindah pindah menangani beberapa tim nasional termasuk diantaranya adalah lawan Indonesia - Vietnam.
Pada beberapa gelaran pertandingan persahabatan sebelum Piala AFF, termasuk saat uji coba dengan Malaysia. Indonesia yang rata-rata pemain Indonesia bertubuh pendek tapi memiliki kecepatan dan determinasi tinggi, Riedl memberi sentuhan 'Total Football Tactics'.
Taktik ini di negeri asalnya yakni Belanda, biasa digunakan oleh tim yang memiliki skill individu antar pemain yang tinggi. Serta pergerakan pemain yang cepat dan sulit diantisipasi dalam mendukung kinerja antar ruang untuk melakukan penyerangan maupun pertahanan.
Kebutuhan Timnas Indonesia, menurut Riedl adalah bagaimana mengolah kelebihan pemain Indonesia yang memiliki kecepatan tapi disisi lain cukup rendah dalam skill individu. Maka terciptalah Total Football ala Indonesia dari sentuhan tangan Alfred Riedl. Sepuluh Pemain Indonesia - minus Kiper- diminta untuk berdiri tidak terlalu jauh satu sama lain.
Setiap bola bergerak disetiap ruang (dalam latihan sepakbola dipergunakan ukuran 3 x 3 m) akan diisi 2 - 3 pemain, yang bertugas mengawal pergerakan bola beserta pemain lawan ketika lawan yang menguasai bola dengan tujuan mempermudah melakukan blocking pass ataupun blocking sector. Begitupula sebaliknya ketika timnas Indonesia yang menguasai bola, dengan 2-3 pemain timnas disetiap ruang, maka bisa mempermudah pemain untuk melakukan kombinasi passing, wall pass ataupun direct pass.
Terkait dengan rendahnya skill dan tingginya determinasi, kekuatan pola penyerangan riedl ditumpukan pada sektor sayap Indonesia. Di kiri ada Rizki Pora dan di kanan ada Andik Vermansyah. Keduanya memiliki skill diatas rata rata pemain Indonesia khususnya soal kecepatan dan dribbling. Keduanya diberi tugas untuk mengangkat bola ketengah , memberikan umpan matang bagi striker klasik Indonesia, yakni Boaz Salossa.
Di Sektor depan, Riedl yang memilih walaupun Boaz secara kecepatan sudah menurun jauh dibanding era 7 - 8 tahun yang lalu. Tapi riedl menyadari hanya Boaz yang memiliki mental penyerang yang baik saat dibawah tekanan didepan gawang. 3 gol yang tercipta dari kaki Boaz sepanjang gelaran AFF 2016 adalah bukti gol yang sulit menghindar dari tekanan pemain lawan. Dibantu penyerang lubang dan pengendali harmonisasi disektor tengah, Riedl memilih pemain yang berpengalaman merumput di liga eropa, yakni stefano lilipaly. Jika Irfan Bachdim diberi ijin oleh klubnya bermain di gelaran AFF tahun ini, maka riedl akan diberi opsi kombinasi penyerang lebih banyak.
Dari sektor Kiper, Riedl selalu memilih kiper yang memiliki pengalaman lebih tinggi dari kiper yang lainnya. Kurnia Meiga adalah pilihan tepat bagi Riedl, pada 2 gelaran AFF sebelumnya kurnia meiga telah tampil pada pemain utama maupun pemain pelapis.
Pada sektor belakang, Riedl menyimpan kombinasi pemain belakang bertubuh lebih besar daripada kebanyakan pemain bek Indonesia lainnya. Yanto Basna yang secara skill tidak terlalu tinggi tapi memiliki ketenangan yang baik khususnya saat menghadapi tekanan lawan. Basna dikombinasi dengan Fachrudin - salah satu bek tengah yang bermain pada gelaran AFF sebelumnya. Fachrudin bagi riedl adalah nyawa bagi jantung pertahanan Indonesia, memiliki skill dan kecepatan antisipasi yang tinggi. Sesekali berkombinasi dengan Hansamu, bek tengah yang memiliki skill heading yang tinggi, baik dalam antisipasi bola bola atas bahkan termasuk 2 gol yang tercipta dari kepala Hansamu adalah bukti Hansamu adalah bek prospektif bagi Timnas Indonesia untuk 3 - 5 tahun mendatang.
Pada sektor bek sayap, Riedl memilih pemain belakang yang memiliki determinasi tinggi kedepan. Benny Wahyudi di sektor kanan dan Abduh Lestaluhu di sektor kiri. Keduanya tidak memiliki pelapis di cadangan, maka jika salah satu cedera Riedl memilih menarik Manahati Lestusen ke sayap atau terpaksa menarik Dedi Kusnandar - pemain tengah yang memiliki naluri dan antisipasi pertahanan yang baik juga.
Sektor tengah selain sayap tak tergantikan Rizki Pora dan Andik Vermansyah, ada juga jenderal palsu atau false general, yang diterapkan oleh Riedl dalam Total Footballnya untuk merusak konsentrasi pemain lawan. Yakni Bayu Pradana, dengan skillnya yang pas pasan, Riedl menempatkannya sebagai false general seakan akan playmaker. Tapi sewaktu waktu bisa beralih fungsi menjadi tukang angkut air yang memiliki daya jelajah tinggi. Ada 2 pemain pelapisnya yang juga disiapkan bermain false general, yakni bayu gatra dan dedi kusnandar. Tapi keduanya belum banyak diberi kesempatan bermain oleh riedl.
Secara keseluruhan, itulah taktik total football Riedl yang mengaku skill pemain Indonesia masih jauh dibawah Thailand dan Vietnam. Tapi Riedl telah menciptakan taktik untuk mengatasi kesenjangan skill tersebut dengan permainan cepat antar ruang, permainan satu-dua sentuhan, direct passing dan yang terakhir adalah totalitas seluruh pemain dalam melakukan penyerangan dan pertahanan secara bersama-sama.
Jumat, 15 Juli 2016
The King Of Europe / Raja Eropa
The King Of Europe / Raja Eropa
Analisa Laga Perancis versus Portugal "The King of King" Final Euro 2016
11 Juli 2016
oleh Aven Januar
Pertandingan Terbaik ! Demikian headline koran pagi ini. Para penggemar sepakbola sejagat yang hampir sebulan ini menikmati berbagai kejutan yang lahir dari tiap babak pertandingan Euro. Mempercayai bahwa partai final euro 2016 sebagai pertandingan terbaik diantara keseluruhan pertandingan yang ada di euro 2016 ini.
"The King of King Match"
Pertandingan secara umum mengaburkan pandangan banyak pengamat sepakbola yang mengganggap bahwa partai final hanya milik Perancis. Begitu impresifnya penampilan Perancis pada babak sebelumnya dan ketergantungan yang tinggi Portugal pada sosok Cristiano Ronaldo menjadi latar belakang analisa para pengamat tersebut.
Tetapi Portugal ternyata membalikkan prediksi banyak pengamat, si banteng merah ini mampu bermain lepas, mampu menahan serangan cepat ala Perancis dengan baik, serta mampu juga melakukan serangan balik dengan cepat dan cermat. Kesemuanya dilakukan dengan pergerakan antar lini yang baik.
Perancis 'Superb Attack Tactics'
Perancis, yang sebelum pertandingan jauh lebih diunggulkan dalam partai final kali ini. Sejak formasi awal diumumkan 45 menit sebelum pertandingan, terlihat Perancis telah menyiapkan gelombang serangan bertubi-tubi di setiap sudut pertahanan Portugal. Giroud yang dipasang sebagai penyerang tunggal ditopang 3 gelandang serang yang haus gol, Griezmann, Pogba dan Sissoko. Dari keempat pemain itulah aliran penyerangan Perancis tercipta, pola serangan yang dinamis dan terencana baik dari kiri kanan maupun tengah. Berdasar catatan akhir gelaran Euro 2016, melalui keempat penyerangnya ini Perancis menjadi tim tersubur diantara kontestan euro lainnya, dengan 13 gol yang berhasil dicetak. Alhasil saat partai final, penyerang Perancis pun berhasil menciptakan 8 peluang krusial yang berpeluang tercetaknya gol. Serta 7 peluang yang melenceng dari tiang gawang. Seandainya, Rui Patricio - Kiper Portugal tidak bermain cemerlang malam final lalu, maka penyerang-penyerang Perancis bisa melesakkan setidaknya lebih dari 3 gol ke gawang Portugal. Sehingga banyak pengamat bola yang memberikan angka 9 untuk taktik penyerangan Perancis.
Portugal 'Superb Defense Tactics'
Selain Italia dengan sistem pertahanan gerendelnya, ternyata malam final euro 2016, Portugal menyajikan sebuah sistem pertahanan zona marking yang lebih ketat dan terencana dibanding kontestan euro lainnya. Dibawah mistar berdiri sosok Rui Patricio, pemain Sporting Lisbon ini bermain cemerlang dan layak merebut gelar pemain terbaik pada partai final euro 2016. Rui Patricio berhasil melakukan 7 kali penyelamatan krusial, dimulai dari sundulan kepala Griezmann hingga tendangan keras sissoko di sudut tiang jauh. Kiper dengan tinggi 183 cm ini berhasil menghalau setiap tendangan yang mengarah ke gawang. Walaupun masih seumur jagung sebagai kiper timnas Portugal ini, tetapi Rui mampu menunjukkan kualitasnya sebagai kiper terbaik euro tahun ini, mengalahkan beberapa nama senior seperti Buffon, Neuer dan Hugo Lloris.
Didepan Rui, ada Pepe, Fonte, Gueirerro, dan Cedric Soares. Keempat bek itu ditopang oleh si 'tukang angkut air' Joao Mario. Khusus Joao Mario ini, penulis mencatat setidaknya ada 8 kali dari 16 kali upaya merebut bola yang dilakukannya. Dan itu menorehkan tinta emas sebagai pemain 'tukang angkut air' terbaik di euro 2016 ini. Joao Mario menjelajah setiap sudut dari sisi tengah Perancis.
Portugal "Its Miracle"
Portugal layak disebut sebagai tim yang penuh kejutan, 'Its Miracle'. Perjalanan Portugal melaju ke babak Final ini bisa dibilang cukup unik dan penuh dengan kejutan. Karena Ronaldo dkk tak pernah meraih kemenangan di waktu normal sebelum laga semifinal mengalahkan Wales dengan skor 2-0. Portugal yang datang sebagai tim yang kurang diunggulkan, terlihat tampil kurang greget di fase penyisihan. Mereka hanya bisa meraih tiga pertandingan dengan hasil imbang. Untungnya Portugal bisa lolos ke babak 16 besar dengan predikat peringkat 3 terbaik. Dari babak 16 besar Portugal berhasil menyingkirkan Kroasia dengan skor 0-1 di babak perpanjangan waktu. Masuk ke babak 8 besar lagi-lagi keberuntungan nampak menaungi Portugal. Bermain imbang 0-0 hingga babak perpanjangan waktu, Portugal berhasil mengalahkan Polandia di Drama adu pinalti.
Pada partai final euro 2016 pun, langkah kejutan Portugal belum berhenti. Sosok Cristiano Ronaldo atau CR7 yang diharap mampu menjadi penggedor lini depan Portugal. Sejak menit ke 15 CR7 yang diganjal dengan keras oleh Giroud tak mampu bermain normal. Sampai di menit ke 25 pun, santos terpaksa menarik CR7 keluar dan diganti oleh Ricardo Quaresma. Publik bola pun memprediksi dengan ditarik keluarnya 'keajaiban' Portugal, CR7 , dipastikan Portugal akan bermain super defensif. Tapi pada fakta lapangannya berbeda, meskipun masih tampak kecenderungan bertahan, tapi Portugal mampu memberikan serangan balik dengan cepat dan cermat. Setiap lini mampu bermain dengan determinasi tinggi. Nani, menjadi sosok sentral lini depan usai CR7 keluar, mampu memberi kejutan dengan beberapa peluang emasnya. Bahkan dengan masuknya Eder di menit ke 79, tingkat serangan Portugal semakin meninggi. Hingga 'Its Miracle' Portugal datang di menit 109, diawali pergerakan Joao Moutinho disisi tengah dalam pertahanan Perancis memberikan bola matang pada Eder. Diperkirakan eder akan memberikan umpan disudut tiang jauh pada Nani yang telah lepas dari pengawalan. Tapi prediksi itu meleset, Eder justru memberikan sepakan keras di sudut kanan kiper, sehingga lloris pun sempat terkejut dan gagal menahan laju deras bola. Gol.
Selamat kepada Portugal yang menjadi Jawara di gelaran 'king of the europe 2016'
Selamat kepada Perancis yang juga telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik hingga berakhir dan sukses tanpa adanya gangguan keamanan yang berarti.
The King Of Europe / Raja Eropa
The King Of Europe / Raja Eropa
Analisa Laga Perancis versus Portugal "The King of King" Final Euro 2016
11 Juli 2016
oleh Aven Januar
Pertandingan Terbaik ! Demikian headline koran pagi ini. Para penggemar sepakbola sejagat yang hampir sebulan ini menikmati berbagai kejutan yang lahir dari tiap babak pertandingan Euro. Mempercayai bahwa partai final euro 2016 sebagai pertandingan terbaik diantara keseluruhan pertandingan yang ada di euro 2016 ini.
"The King of King Match"
Pertandingan secara umum mengaburkan pandangan banyak pengamat sepakbola yang mengganggap bahwa partai final hanya milik Perancis. Begitu impresifnya penampilan Perancis pada babak sebelumnya dan ketergantungan yang tinggi Portugal pada sosok Cristiano Ronaldo menjadi latar belakang analisa para pengamat tersebut.
Tetapi Portugal ternyata membalikkan prediksi banyak pengamat, si banteng merah ini mampu bermain lepas, mampu menahan serangan cepat ala Perancis dengan baik, serta mampu juga melakukan serangan balik dengan cepat dan cermat. Kesemuanya dilakukan dengan pergerakan antar lini yang baik.
Perancis 'Superb Attack Tactics'
Perancis, yang sebelum pertandingan jauh lebih diunggulkan dalam partai final kali ini. Sejak formasi awal diumumkan 45 menit sebelum pertandingan, terlihat Perancis telah menyiapkan gelombang serangan bertubi-tubi di setiap sudut pertahanan Portugal. Giroud yang dipasang sebagai penyerang tunggal ditopang 3 gelandang serang yang haus gol, Griezmann, Pogba dan Sissoko. Dari keempat pemain itulah aliran penyerangan Perancis tercipta, pola serangan yang dinamis dan terencana baik dari kiri kanan maupun tengah. Berdasar catatan akhir gelaran Euro 2016, melalui keempat penyerangnya ini Perancis menjadi tim tersubur diantara kontestan euro lainnya, dengan 13 gol yang berhasil dicetak. Alhasil saat partai final, penyerang Perancis pun berhasil menciptakan 8 peluang krusial yang berpeluang tercetaknya gol. Serta 7 peluang yang melenceng dari tiang gawang. Seandainya, Rui Patricio - Kiper Portugal tidak bermain cemerlang malam final lalu, maka penyerang-penyerang Perancis bisa melesakkan setidaknya lebih dari 3 gol ke gawang Portugal. Sehingga banyak pengamat bola yang memberikan angka 9 untuk taktik penyerangan Perancis.
Portugal 'Superb Defense Tactics'
Selain Italia dengan sistem pertahanan gerendelnya, ternyata malam final euro 2016, Portugal menyajikan sebuah sistem pertahanan zona marking yang lebih ketat dan terencana dibanding kontestan euro lainnya. Dibawah mistar berdiri sosok Rui Patricio, pemain Sporting Lisbon ini bermain cemerlang dan layak merebut gelar pemain terbaik pada partai final euro 2016. Rui Patricio berhasil melakukan 7 kali penyelamatan krusial, dimulai dari sundulan kepala Griezmann hingga tendangan keras sissoko di sudut tiang jauh. Kiper dengan tinggi 183 cm ini berhasil menghalau setiap tendangan yang mengarah ke gawang. Walaupun masih seumur jagung sebagai kiper timnas Portugal ini, tetapi Rui mampu menunjukkan kualitasnya sebagai kiper terbaik euro tahun ini, mengalahkan beberapa nama senior seperti Buffon, Neuer dan Hugo Lloris.
Didepan Rui, ada Pepe, Fonte, Gueirerro, dan Cedric Soares. Keempat bek itu ditopang oleh si 'tukang angkut air' Joao Mario. Khusus Joao Mario ini, penulis mencatat setidaknya ada 8 kali dari 16 kali upaya merebut bola yang dilakukannya. Dan itu menorehkan tinta emas sebagai pemain 'tukang angkut air' terbaik di euro 2016 ini. Joao Mario menjelajah setiap sudut dari sisi tengah Perancis.
Portugal "Its Miracle"
Portugal layak disebut sebagai tim yang penuh kejutan, 'Its Miracle'. Perjalanan Portugal melaju ke babak Final ini bisa dibilang cukup unik dan penuh dengan kejutan. Karena Ronaldo dkk tak pernah meraih kemenangan di waktu normal sebelum laga semifinal mengalahkan Wales dengan skor 2-0. Portugal yang datang sebagai tim yang kurang diunggulkan, terlihat tampil kurang greget di fase penyisihan. Mereka hanya bisa meraih tiga pertandingan dengan hasil imbang. Untungnya Portugal bisa lolos ke babak 16 besar dengan predikat peringkat 3 terbaik. Dari babak 16 besar Portugal berhasil menyingkirkan Kroasia dengan skor 0-1 di babak perpanjangan waktu. Masuk ke babak 8 besar lagi-lagi keberuntungan nampak menaungi Portugal. Bermain imbang 0-0 hingga babak perpanjangan waktu, Portugal berhasil mengalahkan Polandia di Drama adu pinalti.
Pada partai final euro 2016 pun, langkah kejutan Portugal belum berhenti. Sosok Cristiano Ronaldo atau CR7 yang diharap mampu menjadi penggedor lini depan Portugal. Sejak menit ke 15 CR7 yang diganjal dengan keras oleh Giroud tak mampu bermain normal. Sampai di menit ke 25 pun, santos terpaksa menarik CR7 keluar dan diganti oleh Ricardo Quaresma. Publik bola pun memprediksi dengan ditarik keluarnya 'keajaiban' Portugal, CR7 , dipastikan Portugal akan bermain super defensif. Tapi pada fakta lapangannya berbeda, meskipun masih tampak kecenderungan bertahan, tapi Portugal mampu memberikan serangan balik dengan cepat dan cermat. Setiap lini mampu bermain dengan determinasi tinggi. Nani, menjadi sosok sentral lini depan usai CR7 keluar, mampu memberi kejutan dengan beberapa peluang emasnya. Bahkan dengan masuknya Eder di menit ke 79, tingkat serangan Portugal semakin meninggi. Hingga 'Its Miracle' Portugal datang di menit 109, diawali pergerakan Joao Moutinho disisi tengah dalam pertahanan Perancis memberikan bola matang pada Eder. Diperkirakan eder akan memberikan umpan disudut tiang jauh pada Nani yang telah lepas dari pengawalan. Tapi prediksi itu meleset, Eder justru memberikan sepakan keras di sudut kanan kiper, sehingga lloris pun sempat terkejut dan gagal menahan laju deras bola. Gol.
Selamat kepada Portugal yang menjadi Jawara di gelaran 'king of the europe 2016'
Selamat kepada Perancis yang juga telah berhasil menjadi tuan rumah yang baik hingga berakhir dan sukses tanpa adanya gangguan keamanan yang berarti.
Sabtu, 02 Juli 2016
The Match will Never Ends / Pertandingan tiada akhir
The Match will Never Ends
/ Pertandingan tiada akhir
Analisa Laga Jerman versus Italia
'Big Match' Perempatfinal Euro 2016
2 Juli 2016
oleh Aven Januar
Pertandingan yang sarat emosi antara Jerman versus Italia pada laga perempatfinal euro 2016, Sabtu 2 Juli 2016 semalam, harus berakhir dengan kemenangan Jerman 1-1 ( 6-5.pk). Pertandingan berjalan sesuai dengan ekspetasi tinggi dari pengamat dan pecinta bola diseluruh kolong jagat ini. Permainan penuh determinasi tinggi, skill mumpuni antar kedua tim serta laga sarat emosional.
Italia 'Superb Defense Tactics'
Italia, tim yang sedikit lebih diunggulkan, menunjukkan sebagai tim dengan pertahanan terbaik di euro 2016 ini. Banyak pengamat bola memberikan skor 8,5 untuk pertahanan Italia semalam. Dibawah mistar, berdiri sosok tinggi besar yang sarat pengalaman, Gianluigi Buffon, semalam sedang dalam performa terbaiknya. Setidaknya ada 5 peluang emas Jerman yang berhasil digagalkan oleh reflek cepat Buffon dalam mengantisipasi derasnya laju bola.
Di depan Buffon, ada trio bek Juventus, Barzagli, Chielini dan Bonucci, telah berhasil menjadi tembok pertahanan yang kuat layaknya 'The Great Wall' China. Trio ini berkomunikasi dengan baik dalam menahan laju serangan tim panser, baik komunikasi pergerakan antar ruang hingga siapa mengantisipasi siapa. Duet Striker Jerman, Mario Gomez dan Thomas Muller seakan kehabisan akal dan tak diberi kesempatan untuk menciptakan gol. Bahkan Loew, setidaknya mengubah 4 sampai 5 kali perubahan posisi antar pemain lini depan. Gomez dari kiri ke kanan, Muller ditarik sedikit ke belakang, mendorong sayap kanan dan kiri untuk kearah tiang jauh hingga yang terakhir mendorong duet gelandang ozil dan kimmich ke depan.
Jerman 'Superb Midfield Tactics'
Sejak menit awal, Loew telah memberikan kejutan dengan perubahan formasi, dari formasi klasik penyerangan 4-2-3-1 menjadi 3-4-1-2, memberikan gambaran bagi para pengamat, bahwa loew tidak mau melepas bola di lapangan tengah. Terbukti, semalam Jerman dilapangan tengah berhasil memainkan ball position jauh lebih baik daripada pencipta tiki taka ball position, Spanyol. Midfield Jerman, Bermain 'touching ball' atau satu dua sentuhan di bola, ternyata bisa mereduksi determinasi pemain cepat Italia, Giacherrini maupun Florenzi. Salah satu kunci kemenangan penyerangan Jerman, walaupun lini depan gagal mencetak gol, tapi pemain tengah Jerman semalam layak diberi skor 9. Perubahan dari pola bertahan 3-4-1-2 berubah menjadi 4-3-3 saat menyerang dengan cepat membuat barisan tengah Italia seakan kedodoran dan kebingungan, menahbiskan Loew sebagai Best Tactician di perhelatan akbar tahun ini.
Jerman 'The Champs'
Jauh sebelum pelaksanaan Euro 2016, banyak pengamat yang memprediksi kalopun Jerman diberi kesempatan untuk menjadi kampiun di perhelatan kali ini adalah karena Jerman memiliki mental juara yang kuat. Memasuki perpanjangan waktu, pemain muda Italia bermain penuh emosional, setiap pergerakan cepat pemain Jerman dihadang dengan tackling keras dan cepat. Secara umum, permainan keras Italia bisa mereduksi kecepatan serangan Jerman termasuk diantaranya adalah penguasaan bola Jerman di lini tengah. Bahkan dalam fase perpanjang waktu, Italia berhasil mencuri 3 kali peluang serangan balik dari tengah ke depan, membuat jantung pendukung Jerman bergetar hebat. Tapi sekali lagi, - Jerman is the champ ! Jerman is the Winner ! - seperti yang diteriakkan loew jelang perpanjangan waktu dimulai.
Pemain muda Jerman tidak terpancing membalas perlakuan kasar dan keras Italia. Bahkan Beberapa pemain senior yang di lapangan pun seperti sang kapten Schewini, Gomez dan Oezil berhasil memberikan contoh juga untuk tidak membalas perlakuan kasar dan keras Italia. Seandainya semalam pertandingan dimenangkan oleh Italia, maka pada babak semifinal, Italia tidak akan diperkuat beberapa pemain kuncinya seperti Sciglio dan Pelle dikarenakan akumulasi kartu kuning.
Memasuki fase adu penalti, yang mana sejak penendang pertama hingga ke tujuh Jerman tak sekalipun berhasil memimpin skor pertandingan, paling hebat Jerman hanya mampu menyamakan kedudukan, tapi petaka Italia berakhir di penendang kedelapan dan kesembilan. Performa Manuel Neuer pun tak bisa dipandang sebelah mata di babak tos tosan tersebut. Dianggap jauh lebih junior daripada Buffon, tapi penampilannya semalam, Neuer berhasil menahbiskannya sebagai pemain terbaik dalam partai Big Match tersebut. Tapi inilah Jerman sang raja Turnamen dan tim yang selalu memiliki mental juara.
Sekali lagi selamat untuk Jerman !
Selasa, 28 Juni 2016
Catenaccio Ala Conte
Catenaccio Soccer ala Conte saat kontra Spanyol
oleh Aven Januar
Pertahanan rapat alias catenaccio jadi Salah satu faktor kemenangan Italia atas Spanyol pada laga perdelapan final Senin, 27 Juni 2016 lalu. Pertandingan yang disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan terbaik di Euro 2016 sejauh ini hingga pertandingan perdelapan final. Berhasil membalikkan beragam prediksi sebelum pertandingan dengan argumen bahwa gaya defensif Italia dan permainan berbasis penguasaan bola ala Spanyol akan membuat pertandingan ini membosankan.
Dalam game ini , Conte mengubah starting line up dikarenakan Antonio Candreva cedera dengan memainkan Mattia De Scigglio. Sementara pada tim yang berbeda Vicente Del Bosque memainkan susunan tim yang sana dalamnempat pertandingan beruntun. Memberi peluang pada Conte untuk menilik kelemahan yang dalam atas pertahanan Spanyol.
Conte berhasil redam pergerakan Iniesta dan Fabregas
Formula permainan Spanyol berbasis pada kreatifitas lini tengah mereka, dengan berpusat pada kreativitas Iniesta dan Fabregas. Berdua menjadi keeator untuk membuka pertahanan lawan dengan umpan-umpan pendek dan membuka ruang pergerakan yang cepat. Dibelakang mereka berdua, peran sentral dipegang Sergio Busquets persis di depan lini pertahanan adalah untuk mempertahankan alir bola dari belakang ke depan maupun sebaliknya. Serta berfungsi mempertahankan arah dan pola serangan Spanyol.
Setiap lawan yang dihadapi Spanyol, mengalami masalah yang pelik dalam mematikan ketiga pemain tersebut. Sehingga tampak bagi penggemar bola maupun pengamat memprediksi Spanyol menjadi salah satu tim unggulan dalam Piala Eropa tahun ini.
Akan tetapi Antonio Conte berhasil memperhatikan keunggulan Spanyol itu selama setahun belakangan. Yang mana Del Bosque termasuk jenis pelatih yang moderat terhadap pola permainan maupun pilihan pemain yang digunakan menjalankan skemanya. Alhasil, Italia berhasil menghentikan alur bola ke depan yang dilakukan oleh trio pemain tengah Spanyol itu. Busquets seakan sulit mendapatkan bola dan pergerakannya jarang terlihat apik seperti di pertandingan sebelumnya. Sementara Fabregas dan Iniesta hanya mampu mengalirkan bola ke samping tanpa bisa memberikan tusukan berarti ke tengah pertahanan Italia. Pada paruh waktu babak pertama, Ramos dan Pique mencoba mengubahnya dengan umpan-umpan jauh tapi itupun gagal, karena berhasil dihalau oleh pemain tengah Italia.
Italia sukses dengan Catenaccio modern
Trio pertahanan Italia, Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Girgio Chiellini berhasil tampil solid. Permainan pola bertahan Catenaccio tidak sekedar sistem defensif semata tapi Conte memodifikasi dengan sistem yang lebih terstruktur dan solid antar lini Italia. Trio pertahanan Italia benar - benar tenang saat berada dibawah tekanan dan mampu memberikan umpan-umpan yang terukur jauh kedepan atau bahkan nyaman untuk menddrible bola hingga ke garis tengah lawan. Disisi lain Spanyol sebagai Juara Bertahan justru gagal menampilkan permainan mental juara yang jauh lebih baik. Pemain tengah maupun belakang Spanyol pun sulit keluar dari tekanan dari serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Italia. Kematangan seorang Iniesta pun mampu tereduksi oleh kecepatan gelandang mungil Italia, Giaccherini.
Pelle dan Eder
Hampir selama satu dekade ini, lini depan Italia dihuni oleh Penyerang Tengah yang glamor di kolong jagat, seperti Francesco Totti, Filippo Inzaghi, Alberto Gilardino hingga Alessandro Del Piero.
Saat ini, Italia hanya punya Graziano Pelle dan Eder, nama yang lumayan terkenal tapi belum mampu menggetarkan dada para tifosi Italia diseluruh dunia. Tetapi pola permainan direct pass ternyata sangat tepat dengan naluri menyerang mereka berdua. Pelle dan Eder selalu tepat pada in position untuk menerima bola dari belakang. Dalam game melawan Spanyol hanya belasan kali saja, mereka berdua Out Position dalam menerima bola. Alhasil, mereka berdua menciptakan 5 shot on target di babak pertama.
Conte memaksa dua sayapnya mampu berlari menyerang dari kedua sisi lapangan, baik Mattia De Sciglo di kiri dan Florenzi di kanan. Kedua sayap itu harus bermain kreatif untuk menciptakan opsi penyerangan yang lebih lebar sehingga tidak bertemu dengan pertahanan Spanyol yang cenderung menyempit ditengah. Dan tentu melalui kedua sayap itulah , Pelle maupun Eder memiliki banyak peluang untuk menggedor pertahanan Spanyol.
Selain faktor sayap, Pelle dan Eder menjadi kedua belah yang saling menumpu, keduanya sangat solid dalam menciptakan peluang di depan. Pelle dalam satu fase waktu bisa memberikan umpan pada Eder dalam tujuh hingga sembilan kali kesempatan. Termasuk diantaranya umpan tumit yang brillian yang membuat Eder fight one on ne dengan David De Gea. Tetapi Spanyol memiliki kiper yang bermain luar biasa saat melawan Italia, De Gea on fire !sehingga brilliannya aksi Pelle dan Eder hanya mampu menciptakan dua gol saja. Andaikan De Gea tidak on fire malam itu, maka setidaknya ada 5 peluang on target Italia yang bisa dikonversi menjadi gol.
Pelle menjadi pemain terbaik dalam pertandingan ini. Pelle terus berlari dan terus menciptakan peluang. Dan sangat pantas akhirnya mendapat gol indah di akhir pertandingan.
Conte ciptakan total football ala Italia
Kekuatan terbesar dari tim Italia yang dibawa Conte adalah kemampuan mereka untuk bekerjasama dan bekerja satu sama lain. Conte sepanjang pertandingan berteriak hanya beberapa kata saja, yakni, "Bersatu, serangan bersatu, bertahan bersatu!".
Conte membuat timnya benar-benaf terlatih dengan baik. Mereka menyadari mereka bukan pemain bintang, tidak ada kata lain memaksa mereka bermain sebagai satu tim.
Lini Depan Spanyol kehilangan ruh
Sementara itu, lini depan Spanyol seperti kehilangan ruhnya di laga ini. Iniesta dan Fabregas sering mendapatkan bola tetapi gagal untuk memberikannya kepada trio lini depan La Roja; David Silva, Alvaro Morata, dan Nolito. Bahkan ketika mereka memasukkan Aritz Aduriz – yang, menurut Del Bosque, bisa menjadi target man untuk membuat Iniesta bisa bermain lebih dekat dengan gawang , Italia mampu menggagalkan taktik mereka. Spanyol tak mengganti formasi dan skema sejak awal permainan itu adalah bencana, karena Italia memiliki pelatih cerdas sekelas Conte.