Senin, 02 September 2019
Kekayaan Blitar Selatan Habis Dikuras
Kamis, 07 Maret 2019
Nyepi hari terbaikku selain Idul Fitri
Yang terbaik adalah saat silaturahmi atau unjung unjung, jika di lebaran fitri yang berkewajiban unjung unjung adalah umat Hindu, dan saat lebaran nyepi seperti hari ini jika prosesi di Pura selesai sekitar jam 9an pagi maka umat Islam yang wajib bersilaturahmi ke umat hindu yang rumahnya biasa ditandai dengan penjor bambu, tanda beliau umat hindu dan sedang merayakan lebaran. Hari Terbaik bagi kami karena ini adalah kesempatan terbaik bagi kedua anak kecil kamu mengenal kebhinekaan tunggal ika yang merupakan tadisi bangsa dan negeri ini secara turun temurun. Tak perlu kami banyak bercerita tentang Gusti Allah SWT dan Sang Hyang Widhi Wasa kepada anak kami, karena mereka melihat dan merasakannya sendiri. Ya kami hidup di desa "bali" tanah jawa. Desa Krisik Kec Gandusari Kab Blitar.
Selasa, 08 Januari 2019
Suhu Politik Memanas, Masyarakat Harus Cerdas
Suhu Politik Memanas, Masyarakat harus Cerdas
Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, suhu politik dan sosial di Indonesia cenderung memanas karena perbedaan politik. Semakin gencarnya berita berbasis informasi palsu atau hoax menbangun kondisi dan situasi politik semakin panas.
Sekjen Lembaga Soekarno House Indonesia, Aven Januar mengajak kepada seluruh masyarakat untuk cerdas dalam menyaring segala informasi yang diterima. Serta cerdas dalam menyikapi segala informasi baik yang hoax maupun yang tidak hoax dalam kerangka menjaga semangat persatuan dan kesatuan dibalik perbedaan politik yang ada.
"Perbedaan politik, harus disikapi dengan cerdas, supaya tidak terjebak dalam situasi saling memanasi, saling menghujat dan saling mengolok-olok," jelas Aven Januar dalam Diskusi Internal Lembaga Soekarno House di Surabaya, kemarin (07/01/2019).
Pada diskusi tersebut, Aven mengingatkan agar rakyat Indonesia menghilangkan rasa kebencian antar sesama dengan menanamkan semangat kekeluargaan, semangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap keberagaman. Serta menjaga semangat persatuan dan kesatuan demi keutuhan NKRI.
Menurutnya, perbedaan politik hal yang wajar, namun menjaga kerukunan dan kekeluargaan antar sesama adalah amanat para penderi negeri ini.
"Bung Karno, telah menyerukan perbedaan dan keberagaman Bangsa Indonesia adalah Rahmat Allah SWT yang harus disyukuri, tapi Tuhan tidak menginginkan adanya perpecahan karena perbedaan tersebut," papar mantan Ketua Dep Pemuda DPD PDI Perjuangan Jawa Timur 2010-2015 ini.
Situasi saling memanasi ini, lanjut Aven akan terus berlangsung sampai hari H pemilihan, maka itu seluruh elemen masyarakat harus mampu menjaga kecerdasannya dalam menyikapi.
"Anggaplah Pilpres dan Pileg sebagai ajang pembelajaran demokrasi, yang semakin memperkuat kecerdasan kita dan bukan justru terjerembab dalam kebodohan," pungkas Aven
(*)
Sumber Berita :
https://hai.radarmalang.id/suhu-politik-memanas-masyarakat-harus-cerdas/
Selasa, 05 Juni 2018
Rusia , Geliat "Serigala Merah"
Rusia geliat "serigala merah"
oleh Aven Januar
Salam Olahraga,
Hanya tinggal beberapa hari lagi Kick Off Piala Dunia 2018 akan segera digelar. Seluruh pasang mata penggemar sepakbola akan dipusatkan pada gelaran 4 tahunan tersebut. Tuan Rumah Rusia juga telah berbenah, dengan menghadirkan stadion berkapasitas besar dengan keindahan ala khas Eropa Timur. Beberapa stadion bahkan sengaja dibangun di spot spot daerah pegunungan yang berhawa sejuk dan indah. Sebagai tuan rumah, prestasi tertinggi merupakan sebuah kebanggaan negeri yang disebut sebagai surga-nya Eropa Timur ini.
Jika kita bedah lini perlini kekuatan timnas Rusia ini berintikan kombinasi pemain muda dan tua yang kenyang pengalaman internasional. Dan yang oleh rakyat Rusia sendiri dan juga diamini oleh sejumlah pengamat bola, ini adalah komposisi terbaik yang dimiliki rusia sejak tiga dekade terakhir.
Dimulai dari kandidat kiper terbaik di dunia Igor Akinfeev yang berasal dari Klub CSKA. Berbadan tinggi besar khas olahragawan Rusia, mampu menciptakan ruang tembak yang sempit bagi penyerang lawan. Gerakan antisipasi melompatnya, mengingatkan orang kepada kiper terbaik didunia era 60an asal Uni Sovyet, Lev Yashin. Igor saat ini menjadi kekuatan yang menakutkan bagi penyerang lawan.
Didepan Igor berjajar pemain bertahan berkualitas diatas rata rata dan berbadan tinggi besar. Diantaranya Ilya Kutepov (spartak), Mario Fernandes (CSKA) dan Igor Smolnikov (Zenit).
Barisan tengah Rusia menyimpan pemain muda yang memiliki kecepatan tinggi, Yuri Zhirkov, Andrei Golovin dan Denis Cheryshev. Pemain berkecepatan lari tinggi itu memantapkan pola bermain Rusia dari kaki ke kaki yang bertenaga. Melalui pergerakan sayapnya ini, Rusia berharap mencetak gol dari lini kedua. Dan ingin mempertontonkan permainan cepat, cantik dan bertenaga.
Dibarisan depan ada penyerang Rusia yang patut diperhitungkan tim lawan dengan catatan terbaiknya yakni Artem Dzuba dari klub Arsenal Tula. Biasa bermain sebagai penyerang tunggal dan mengandalkan tendangan keras kaki kirinya cukup membahayakan bagi gawang tim lawan. Dua penyerang lainnya, Alexei Miranchuk (Locomotiv) dan Fyodor Smolov (Krasnodar) juga biasa bermain sebagai penyerang tunggal.
Dengan komposisi diatas, Rusia menargetkan Juara. Akan tetapi saya memberi penilaian optimis bagi Rusia, 16 besar adalah target yang realistis yang harus dicapai terlebih dahulu. Selanjutnya tergantung seberapa kuat mental pemain, mental bermain dan tim secara keseluruhan menghadapi tekanan bermain dihadapan publik sendiri. Jika berhasil, bukan tidak mungkin Rusia memberikan kejutan di gelaran Piala Dunia kali ini.
Tulisan Besok
"Jerman sang Jawara Sejati"
Kamis, 16 Maret 2017
SALAH SATU GURU POLITIK KU HARI INI MENINGGAL DUNIA
SALAH SATU GURU POLITIK KU HARI INI MENINGGAL DUNIA
Suatu ketika di penghujung 2004, tetap menggunakan sarung dan baju koko berwarna putih bersih serta bersongkok hitam. Di kondisi santai tanpa beban itu, aku bertanya "bah, kenapa abah yang kyai malah maju sebagai cawapres, yg saya yakin abah mengerti sebelumnya jika akan kalah dan dana akan banyak keluar?"
Dia menghela nafas, dan bertanya kembali ke saya "kenapa kamu merokok dan saya juga yakin kalo kamu mengerti kalo rokok justru menghabiskan uangmu dan akan mengganggu kesehatanmu?"
Aku pun berusaha tenang dalam menjawab pertanyaan seorang hadratus syeikh, seorang yang dimuliakan Allah SWT karena kekuatan ibadah dan syiarnya kemana mana. "Alasan pertama, alhamdulillah sampai hari ini saya masih diberi rejeki oleh Allah SWT untuk saya berkemampuan membeli rokok tersebut dan yang kedua saya juga yakin bahwa umur dan kesehatan saya pasrahkan semua kepada Allah SWT, karena hanya Dia yang menjawab tentang umur dan kesehatan itu bah," jawabku yang kuusahakan untuk serasional mungkin menjawab pertanyaan beliau.
Abah Hasyim - demikian para santrinya memanggil beliau - mengajakku bangkit berkeliling ponpes Al Hikam yang waktu itu masih beberapa tahun dirintisnya. "Begitu pula dengan alasan saya, dik. Yang pertama, rejeki Allah SWT Maha Luas sehingga saya dan keluarga diberi kesempatan menyisihkan rejeki untuk bisa membantu banyak umat islam dan dibanyak tempat dalam perjalanan saya hampir 1 tahun lamanya berkeliling kampanye," jawabnya sambil melihat beberapa tanaman di halaman ponpes yang berhasil ditanam oleh para santri mahasiswa di Ponpes Al Hikam.
Sambil menghela nafasnya dan mulai berkeringat karena jalan jalan pagi itu, dia menjawab alasan keduanya. "Setiap umat Islam dan pengikut Nabi Muhammad SAW, haruslah berbekal pada optimisme, optimisme itu wujud tawakal dan ikhtiar kita yang paling ringan, optimis dalam menjalani setiap langkah kehidupan horizontal kemanusiaannya dan kemanusiaannya kita semua, termasuk diantaranya soal menang dan kalah dalam kampanye pilpres kemarin, siapa bilang saya yakin kalah ? Saya bersama Ibu megawati tetap dalam kerangka optimis menang. Kenapa harus begitu ? Karena saya yakin dalam kemenangan itu akan semakin banyak umat yang bisa saya bantu baik soal kesejahteraannya, kemakmurannya maupun kemerdekaannya sebagai umat manusia yang hidup di alam raya nya Indonesia ini,"
"Minum kopinya dulu dik, kopi ini saya bawa dari timor nusa tenggara timur," katanya memotong alasan keduanya itu. "Tapi dik segala bentuk ikhtiar dan tawakal kita tetap kita serahkan pada Allah SWT termasuk soal kekalahan kemarin, saya sudah sampaikan ke ibu mega, jika kita sudah bertarung dengan sebaik baiknya, dan sehormat hormatnya sebagai salah satu insan politik, tapi kekalahan ini adalah wujud kesabaran kita dalam menghadapi segala persoalan kehidupan ini," menjawab dengan diplomatisnya.
Hari ini hari kamis (15/09) , hatiku setengah menjerit ketika jam setengah tujuh pagi tadi mendapat telpon dari seorang kawan di malang, "Ven, abah sudah meninggal dunia, usahakan datang ya untuk mensholatinya dan mendoakkannya," ..... ahhhhhh.... satu lagi guru politikku telah meninggal dunia... bangkit aku dan segera berangkat ke malang.
Selamat jalan bah......
Selamat Jalan Hadratus Syeikh KH Hasyim Muzadi
Dari santrimu....
Aven Januar Aven Januar Full ....
Rabu, 01 Februari 2017
Marhaenisme oleh Sutoro SB
MARHAENISME
Oleh : Sutoro SB (Alumni GMNI Jogjakarta)
Pendahuluan
Banyak orang belajar/mempelajari Marhaenisme, yakni ajaran Bung Karno. Namun tidak menemukan apa sebenarnya inti dan kehendak dari ajaran tersebut. Mereka tidak atau belum menemukan “benang merahnya”. Dengan demikian maka sepertinya mereka sekedar mempelajari secara lahir tentang perjuangan dan keberhasilan Bung Karno di masa yang silam, karena mereka cuma mewarisi abunya sejarah bukan apinya sejarah.
Apabila setiap pengikut ajaran Bung Karno hanyalah demikian adanya, hanya sekedar pewaris-pewaris abu sejarah belaka, alangkah sayangnya ajaran yang brilliant itu kemudian menjadi kenang-kenangan (sekalipun kenang-kenangan yang indah). Marhaenisme kemudian menjadi “out of date”. Adalah menjadi tanggungjawab kita bersama untuk kembali menghidupkan jiwa ajaran tersebut, kembali menemukan arti kebaikan bagi rakyat. Dengan demikian Marhaenisme akan menampakkan jiwanya sebagai ajaran yang dinamis dan selalu up to date.
Untuk itulah maka mempelajari Marhaenisme tidaklah cukup hanya mempelajari pengertian-pengertiannya yang verbal, akan tetapi kita mencoba untuk menukik lebih dalam mencoba mengkaji makna hakikinya. Dengan demikian maka di samping kita mengerti apa Marhaenisme (secara verbal), kita coba menelaah mengapa dan juga untuk apa Marhaenisme yang meliputi mengapa lahir Marhaenisme dan mengapa kita pilih sekarang serta untuk apa sebenarnya kita memiliki Marhaenisme itu.
Pengertian dasar Marhaenisme
Marhaenisme – Marhaen – Marhaenis
Marhaenisme, adalah ajaran Bung Karno. Pengertianya adalah meliputi asa (teori politik) dan asas perjuangan.
Sebagai asa atau teori politik, ia adalah teori yang menghendaki susunan masyarakat dan negara yang didalam segala halnya menghendaki keselamatan kaum Marhaen*. Sebagai teori politik meliputi pengertian :
Sosio Nasionalisme,
Sosio Demokrasi,
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sosio Nasionalisme; adalah nasionalisme masyarakat, nasionalisme yang mencari selamatnya seluruh masyarakat dan yang bertindak menurut wet-wet nya masyarakat itu**.
Sosio Demokrasi; adalah merupakan konsekuensi daripada Sosio Nasionalisme. Sosio demokrasi adalah pula demokrasi yang berdiri dengan kedua kakinya didalam masyarakat***. Sosio Demokrasi tidak untuk kepentingan sekelompok kecil masyarakat akan tetapi adalah untuk kepentingan seluruh masyarakat.
Marhaen; adalah diambil dari nama seorang petani yang ditemui oleh Bung Karno di daerah Priangan. Marhaen digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan kelompok masyarakat/bangsa Indonesia yang menderita/sengsara. Ia sengsara/menderita bukan karena kemalasannya atau kebodohannya, akan tetapi ia sengsara/menderita karena disengsarakan oleh sesuatu sistem/stelsel kapitalisme-kolonialisme.
Marhaen meliputi unsur-unsur tani, buruh-tani, pedagang kecil yang melarat, dan semua kaum melarat lainnya yang dimelaratkan oleh sistem/stelsel kapitalisme-kolonialisme dan feodalisme.
Marhaenis, adalah penganut ajaran Marhaenisme yang berjuang menurut petunjuk ajaran-ajaran Marhaenisme, berjuang dengan bersama-sama/mengorganisir berjuta-juta kaum marhaen yang tersebar di seluruh tanah air.
2.1. Marhaenisme sebagai asas/teori politik sebenarnya merupakan kesimpulan, sekaligus sebagai teori perjuangan.
Artinya : pada saat itu Bung Karno menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia (Marhaen) menderita karena suatu sistem/stelsel. Sebetulnya ia penuh potensi dan bukan kaum yang malas.
Dengan demikian maka Marhaenisme mengandung teori perjuangan. Masalahnya mengapa sampai tiba kesimpulan yang demikian itu? Disinilah makna daripada Marhaenisme. Dengan visi Marhaenisme (yang berpihak kepada rakyat), kita dapat menganalisa masyarakat dan hasilnya adalah kita mengetahui kesengsaraan rakyat yang disebabkan oleh suatu sistem/stelsel. Dan dengan itu pula kita dapat menentukan cara berjuangnya.
2.2. Marhaenisme adalah kesimpulan dari penelaahan terhadap kondisi masyarakat Indonesia.
Kita ketahui bahwasanya masyarakat itu berkembang, seperti yang dijelaskan dalam metode berpikir marhenisme tentang “THESA-ANTITHESA-SYNTESA”. Demikianlah masyarakat berkembang terus dari suatu thesa (keadaan) kepada thesa (keadaan) berikutnya, sampai pada thesa yang terakhir. Gerak ini kita kenal sebagai “DIALEKTIKA”. Dengan dialektika, selanjutnya kita dapat melihat dua elemen dalam masyarakat yang selalu berhadapan, yakni :
element establishment, dan
elemen perubahan.
Elemen establishment adalah elemen yang menguasai thesa dan menjalankan suatu stelsel/sistem sebagai kelangsungan thesa (keadaan) tersebut. Elemen perubahan adalah elemen yang berada pada struktur antithesa. Apabila thesa pertama telah gugur karena munculnya antithesa, maka keadaan baru atau sinthesa akan dikuasai oleh elemen perubahan tersebut. Selanjutnya pada saat itu elemen perubahan menjadi elemen establishment. Demikianlah proses semacam ini berjalan terus sampai tercipta thesa terakhir yakni satu bentuk stelsel /sistem kemasyarakatan yang terakhir dan sempurna (dalam ajaran Marhaenisme, bentuk tersebut adalah Sosialisme Indoneisa).
Dari teori di atas dapat dianalisa keadaan masyarakat Indonesia. Ketika kolonialisme Belanda menguasai maka posisinya adalah sebagai establishment. Ia menguasai suatu thesa/keadaan (penjajahan) dan menjadi suatu stelsel/ sistem kapitalisme-kolonialisme.
Pada saat yang bersamaan , disitu telah terdapat pula elemen perubahan,- yakni masyarakat Indonesia yang tidak puas dengan keadaan. Semula kekuatan perubahan ini bersifat latent, setelah kekuatan ini berhasil diungkapkan – maka menjadi kekuatan riil untuk merubah keadaan. Cara pengungkapan kekuatan latent menjadi kekuatan riil itulah yang kemudian dirumuskan sebagai asa/teori perjuangan. Didalam buku MENCAPAI INDONESIA MERDEKA teori atau asas perjuangan disebutkan antara lain melipuit : self-help, self-relience, non kooperatip, machtvrming, massa aksi, revolusioner.
Setelah terjadi perubahan (kemerdekaan Indonesia) dan elemen perubahan berubah menjadi elemen establishment dan telah menguasai keadaan maka dibutuhkan teori-teori atau asas untuk menyusun sistem/stelsel kemasyarakatan. Dari hasil telaah yang mendalam ditemukan teori politik yang merupakan jawaban (antithesa) dari keadaan (thesa) yang ada.
Secara singkat digambarkan sebagai berikut:
Catatan: Dalam kenyatan masyarakat masing-masing kondisi tersebut tidak dapat selalu dipisahkan, akan tetapi saling berkaitan.
Dengan demikian maka nampaklah bahwa baik sebagai teori politik/asas maupun sebagai teori perjuangan, adalah merupakan jawaban terhadap keadaan.
Mengapa Memilih Marhaenisme
Persoalan berikutnya adalah mengapa sampai terjadi kesimpulan tersebut ? dengan kata lain; mengapa mesti lahir Marhaenisme, demikian pula mengapa pula kita memilihnya?
Pada proses dialektika seperti disebutkan di depan, maka rakyat berada pada elemen perubahan karena ia (rakyat) jelas merupakan bagian masyarakat yang menderita akibat satu sistem/stelsel yang dipertahankan oleh elemen establishment. Proses perubahan tersebut adalah sudah menjadi keharusan sejarah dan merupakan hukum alam, dan mesti terjadi. Karena setiap Marhaenis menghendaki perbaikan nasib rakyat, maka ia pasti berpihak kepada rakyat, berpihak kepada perubahan, karena perubahan yang terjadi adalah satu proses yang menuju kepada perbaikan nasib rakyat. Ketika Bung Karno dengan pisau analisanya mencoba meneelaah keadaan yang terjadi atas bangsanya dan dilihatnya elemen establishment (kolonialisme Belanda) dan elemen perubahan (Marhaen yang menderita) maka tercetuslah ajaran ajarannya yang menghendaki perubahan dengan jalan “merdeka sekarang juga”. Dengan kemerdekaan nasional (sebagai jembatan emas) akan diperbaikilah nasib Marhaen yang menderita.
Maka boleh disimpulkan; karena adanya kolonialisme Belanda dan karena adanya Marhaen yang menderita dan atas kemampuan Bung Karno, lahirlah “MARHAENISME” sebagai teori politik dan teori perjuangan yang menghendaki perubahan-perubahan menuju perbaikan nasib Marhaen.
Persoalan berikutnya adalah merupakan hal yang penting bagi kita. Mengapa kita memilih Marhaenisme sebagai anutan? Menjawab pertanyaan tersebut maka terlebih dahulu kita menjawab permasalahan berikut, yakni :
Apakah proses perubahan/dialektika itu masih akan terjadi ?
Berada pada pihak manakah kita dalam pertentangan dua elemen yang ada (establishment dan perubahan) tersebut ?
Di dalam metode berpikir Marhaenisme telah jelas diterangkan tentang pola perubahan dalam masyarakat, secara sedarhana dapat digambarkan sebagai berikut:
Melihat proses tersebut kita dihadapkan pada pilihan untuk menilai dimanakah fase perkembangan masyarakat yang ada. Apabila kesimpulan kita bahwa masyarakat sosialisme Indonesia (III) belum tercapai maka berarti proses perubahan masih akan terjadi. Dalam hal ini setiap Marhaenis berpihak pada elemen perubahan yang menuju kepada perbaikan nasib kaum Marhaen/rakyat.
Untuk Apa Marhaenisme ?
Setelah kita tahu apa dan mengapa marhaenisme, maka masalahnya adalah penarikan relevansinya pada saat ini. Dengan kata lain, untuk apakah marhaenisme ?
Jawabannya adalah sangat sederhana “UNTUK BERJUANG”. Namun demikian sekalipun ungkapan diatas adalah sangat sederhana, akan tetapi menerangkan masalah ini sebenarnya memerlukan uraian yang sangat panjang.
Konotasi “BERJUANG” adalah berarti memperjuangkan nasib rakyat. Lalu kita mencoba mengkaji dan menelaah masalah kekinian untuk kemudian mengambil sikap. Pertama, kita lihat bagaimana, dan bagaimana kesimpulannya. Kalau kesimpulan kita adalah “PENDERITAAN”, maka masalah berikutnya adalah: mengapa mereka menderita?, apa penyebabnya?, dan sebagainya.
Secara sederhana kita simpulkan secara global, ambilah TRISAKTI TAVIP sebagai tolok ukur. Rumusan Trisakti adalah:
Berdikari dalam bidang ekonomi.
Berdaulat dalam bidang politik.
Berkepribadian dalam kebudayaan.
Trisakti merupakan tolok ukur untuk menilai kemerdekaan. Dinamakan merdeka apabila ketiga hal tersebut telah dipenuhi, atau setidaknya dalam proses menuju kesana. Dikatakan bahwa kemerdekaan adalah sekedar “Jembatan Emas”. Diseberang jembatan itu kita bangun Sosialisme Indonesia, kita bangun Indonesia yang “gemah ripah lohjinawi”. Masalahnya sekarang bagaimanakah keadaan jembatan tersebut, untuk menilai hal ini kita punya tolak ukur di atas. Demikian pula mari kita lihat keadaan masyarakat Marhaenis dengan menggunakan pisau analisa Marhanisme, baru kemudian kita bisa menentukan sikap dengan terlebih dahulu memilih siapa kawan kita, dan siapa lawan kita.
Penutup
Kalau kita melihat pola perubahan masyarakat melalui proses dialektika, maka seolah-olah kita terpukau, apakah untuk mencapai Sosialisme Indonesia harus melalui fase kapitalisme? Bung Karno menjelaskan bahwa tanpa melalui fase kapitalisme kita dapat mencapai Sosialisme Indonesia. Teori ini kemudian disebut dengan “fase Sprong Teory”. Dengan pentahapan revolusi, maka dengan meloncati fase kapitalisme kita dapat langsung menuju sosialisme. Ternyata Bung Karno tidak sendiri, artinya bahwa pendapat beliau (teori fase sprong) bukan satu-satunya pendapat atau teori yang berpendapat bahwa tanpa melalui kapitalisme dapat terbentuk sosialisme. Ernesto Che Guevara, seorang pejuang revolusioner dari Kuba (yang terbunuh di Bolivia) mempunyai pendapat yang sama walaupun dalam rumusannya yang berbeda. Dikatakannya sebagai berikut:
“It’s not necessary to weak for fullfillment condition a revolution, because the focus of insurection can create them”.
Maksudnya, tanpa menunggu kondisi penuh untuk suatu revolusi (mencapai sosialisme), sosialisme akan tercapai. Karena revolusi untuk mencapai sosialisme akan terbentuk dengan sendirinya dengan dihidupkannya pergolakan-pergolakan, yang artinya masyarakat digembleng dalam suasana revolusioner secara terus menerus. Bung Karno membagi tahapan revolusi sebagai berikut:
fase satu, nasionalisme demokrat
fase dua, sosialisme demokrat
fase tiga, sosialisme indonesia
Pada fase satu, semua elemen progresif dipersatukan, semua potensi nasional disatukan (Nation And Character Building) untuk menyingkirkan musuh dan penghalang revolusi. Pada fase kedua, setelah semua penghalang revolusi berhasil disingkirkan, maka selanjutnya adalah membangun landasan dasar sosialisme. Landasan mental telah tercipta ( dengan Nation And Character Building) maka dibangunkanlah landasan fisiknya. Dengan berakhirnya fase kedua maka kita telah siap memasuki fase tiga, yakni Sosialisme Indonesia.
Jumat, 16 Desember 2016
Total Football ala Riedl
Total Football ala Riedl
oleh Aven Januar
Sepanjang gelaran Piala AFF 2016, Tim Nasional Indonesia yang diarsiteki oleh Alfred Riedl seakan menjadi singa lapar yang selalu mengalami trend naik dan bermain over comeback (lambat panas).
Kecerdikan Alfred Riedl meracik strategi pantas disaluti. Arsitek asal Austria tersebut pintar membaca permainan. Ia jeli melihat sejumlah kelemahan Tim lawan.
Riedl memahami rendahnya kualitas skill pemain Indonesia. Catatan Riedl sebelum turnamen, skill Indonesia hanya sedikit diatas filipina dan malaysia. Tapi masih dibawah Thailand dan Vietanam. Hal ini yang menjadi pr besar bagi pelatih senior yang sudah berpindah pindah menangani beberapa tim nasional termasuk diantaranya adalah lawan Indonesia - Vietnam.
Pada beberapa gelaran pertandingan persahabatan sebelum Piala AFF, termasuk saat uji coba dengan Malaysia. Indonesia yang rata-rata pemain Indonesia bertubuh pendek tapi memiliki kecepatan dan determinasi tinggi, Riedl memberi sentuhan 'Total Football Tactics'.
Taktik ini di negeri asalnya yakni Belanda, biasa digunakan oleh tim yang memiliki skill individu antar pemain yang tinggi. Serta pergerakan pemain yang cepat dan sulit diantisipasi dalam mendukung kinerja antar ruang untuk melakukan penyerangan maupun pertahanan.
Kebutuhan Timnas Indonesia, menurut Riedl adalah bagaimana mengolah kelebihan pemain Indonesia yang memiliki kecepatan tapi disisi lain cukup rendah dalam skill individu. Maka terciptalah Total Football ala Indonesia dari sentuhan tangan Alfred Riedl. Sepuluh Pemain Indonesia - minus Kiper- diminta untuk berdiri tidak terlalu jauh satu sama lain.
Setiap bola bergerak disetiap ruang (dalam latihan sepakbola dipergunakan ukuran 3 x 3 m) akan diisi 2 - 3 pemain, yang bertugas mengawal pergerakan bola beserta pemain lawan ketika lawan yang menguasai bola dengan tujuan mempermudah melakukan blocking pass ataupun blocking sector. Begitupula sebaliknya ketika timnas Indonesia yang menguasai bola, dengan 2-3 pemain timnas disetiap ruang, maka bisa mempermudah pemain untuk melakukan kombinasi passing, wall pass ataupun direct pass.
Terkait dengan rendahnya skill dan tingginya determinasi, kekuatan pola penyerangan riedl ditumpukan pada sektor sayap Indonesia. Di kiri ada Rizki Pora dan di kanan ada Andik Vermansyah. Keduanya memiliki skill diatas rata rata pemain Indonesia khususnya soal kecepatan dan dribbling. Keduanya diberi tugas untuk mengangkat bola ketengah , memberikan umpan matang bagi striker klasik Indonesia, yakni Boaz Salossa.
Di Sektor depan, Riedl yang memilih walaupun Boaz secara kecepatan sudah menurun jauh dibanding era 7 - 8 tahun yang lalu. Tapi riedl menyadari hanya Boaz yang memiliki mental penyerang yang baik saat dibawah tekanan didepan gawang. 3 gol yang tercipta dari kaki Boaz sepanjang gelaran AFF 2016 adalah bukti gol yang sulit menghindar dari tekanan pemain lawan. Dibantu penyerang lubang dan pengendali harmonisasi disektor tengah, Riedl memilih pemain yang berpengalaman merumput di liga eropa, yakni stefano lilipaly. Jika Irfan Bachdim diberi ijin oleh klubnya bermain di gelaran AFF tahun ini, maka riedl akan diberi opsi kombinasi penyerang lebih banyak.
Dari sektor Kiper, Riedl selalu memilih kiper yang memiliki pengalaman lebih tinggi dari kiper yang lainnya. Kurnia Meiga adalah pilihan tepat bagi Riedl, pada 2 gelaran AFF sebelumnya kurnia meiga telah tampil pada pemain utama maupun pemain pelapis.
Pada sektor belakang, Riedl menyimpan kombinasi pemain belakang bertubuh lebih besar daripada kebanyakan pemain bek Indonesia lainnya. Yanto Basna yang secara skill tidak terlalu tinggi tapi memiliki ketenangan yang baik khususnya saat menghadapi tekanan lawan. Basna dikombinasi dengan Fachrudin - salah satu bek tengah yang bermain pada gelaran AFF sebelumnya. Fachrudin bagi riedl adalah nyawa bagi jantung pertahanan Indonesia, memiliki skill dan kecepatan antisipasi yang tinggi. Sesekali berkombinasi dengan Hansamu, bek tengah yang memiliki skill heading yang tinggi, baik dalam antisipasi bola bola atas bahkan termasuk 2 gol yang tercipta dari kepala Hansamu adalah bukti Hansamu adalah bek prospektif bagi Timnas Indonesia untuk 3 - 5 tahun mendatang.
Pada sektor bek sayap, Riedl memilih pemain belakang yang memiliki determinasi tinggi kedepan. Benny Wahyudi di sektor kanan dan Abduh Lestaluhu di sektor kiri. Keduanya tidak memiliki pelapis di cadangan, maka jika salah satu cedera Riedl memilih menarik Manahati Lestusen ke sayap atau terpaksa menarik Dedi Kusnandar - pemain tengah yang memiliki naluri dan antisipasi pertahanan yang baik juga.
Sektor tengah selain sayap tak tergantikan Rizki Pora dan Andik Vermansyah, ada juga jenderal palsu atau false general, yang diterapkan oleh Riedl dalam Total Footballnya untuk merusak konsentrasi pemain lawan. Yakni Bayu Pradana, dengan skillnya yang pas pasan, Riedl menempatkannya sebagai false general seakan akan playmaker. Tapi sewaktu waktu bisa beralih fungsi menjadi tukang angkut air yang memiliki daya jelajah tinggi. Ada 2 pemain pelapisnya yang juga disiapkan bermain false general, yakni bayu gatra dan dedi kusnandar. Tapi keduanya belum banyak diberi kesempatan bermain oleh riedl.
Secara keseluruhan, itulah taktik total football Riedl yang mengaku skill pemain Indonesia masih jauh dibawah Thailand dan Vietnam. Tapi Riedl telah menciptakan taktik untuk mengatasi kesenjangan skill tersebut dengan permainan cepat antar ruang, permainan satu-dua sentuhan, direct passing dan yang terakhir adalah totalitas seluruh pemain dalam melakukan penyerangan dan pertahanan secara bersama-sama.

