create your own banner at mybannermaker.com!
Tampilkan postingan dengan label pdi perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pdi perjuangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2021

Filosofi Bakso

Filosofi Bakso


Bagi saudara kita dari Tiongkok, bakso memiliki filosofi sederhana tapi bermakna sangat tinggi. Dimulai dari proses pembuatannya bakso, yang merupakan gumpalan daging itu disatukan oleh tepung tapioka. Yang digulung dengan makna menyatukan atau reunite. Menyatukan hati, menyatukan persaudaraan, menyatukan tekad dan menyatukan pikiran. Maka itu umum bagi masyarakat Tiongkok, bakso disajikan di event event tertentu seperti halnya reuni keluarga, reuni sekolah, reuni marga dan sejenisnya. Jika ditarik ke agama Kristen, yang mengenal dengan bahasa perjamuan. Atau bahkan Agama Islam dengan bahasa Silaturahmi.

Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab yakni Shilah yang artinya hubungan atau sambungan dan Ar- rahim yang bermakna kerabat atau saudara. Kata silaturahim kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia yakni silaturahmi yang artinya tali persahabatan (persaudaraan), dan bersilaturahmi yang artinya mengikat tali persahabatan (persaudaraan). 

Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur dan ditaburi bawang goreng dan seledri. Hal inipun memperkuat filosofi reuni itu sendiri, dengan ragam itu menunjukkan bahwa berbagai ras, suku bangsa, agama dan antar golongan bisa disatukan dalam satu kesatuan yang utuh. 

Indonesia yang dihuni 270.203.917 jiwa pada tahun 2020, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Indonesia juga memiliki 721 bahasa daerah, merujuk pada sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa yang hidup di kurang lebih 17 ribu pulau besar maupun kecil. Ini yang menyebabkan besarnya potensi ancaman perpecahan antar penduduk dengan berbagai latar belakang yang bisa dipecah belah. 

Renungan yang dalam dari filosofi Bakso untuk kondisi NKRI yang saat ini sedang dalam kondisi terpecah belah oleh berbagai isu dan aksi. Saatnya merakit kembali bingkai NKRI kita dalam semangat membangun negeri ini. Berbagai perbedaan agama,  ras,  suku bangsa dan lainnya justru memperkuat harmonisasi kehidupan antar penduduk untuk saling mengenal dan saling memahami.  

Selamat Pagi NKRI !

salam, 

Aven Januar

Koordinator Forum Jokowi Jawa Timur

Kamis, 24 Desember 2020

Natal Di Tengah Pandemic 2020

Natal di tengah Pandemic. 


Saya memahami jika rekan/kerabat/saudara yang merayakan natal di tengah pandemic bukanlah hal yang mudah. Saya melihat ketatnya Protokoler Kesehatan bagi teman teman yang mengikuti misa di gereja sejak sore tadi, hingga malam ini. Ada sedikit kekecewaan itu pasti tapi sekali lagi ini tahun 2020 tahun penuh keprihatinan. 

Bagaimana hampir saya sendiri mengikuti perkembangan pemakaman seorang kawan melalui virtual. Belum lagi berseliwerannya berita/kabar duka rekan atau bahkan kawan dekat yang meninggal dunia karena covid melalui sosial media. 

Satu persatu dari mereka untuk melanjutkan perjalanan baru. Kita yang ditinggalkan kenangan, ajaran serta kewajiban untuk melanjutkan amanat ajaran mereka. Hingga terkadang saya pun ragu untuk membuka sosmed, khawatir setiap pagi membaca kalimat pembuka Innalillahi wa innalilahi rojiun atau telah meninggal dunia. Hampir setiap pagi atau sore. Siapa yang mendahului kita. 


Belum lagi mendengar berita kawan / kerabat yang posting foto sedang dalam perawatan di rumah sakit. Sedang melawan penyakit covid 19 melalui isolasi ketat rumah sakit. Saat mendengarnya, tidak sekedar doa yang terpanjat tapi juga keresahan hati kita bagaimana kita menghadapi situasi pandemic yang tak berujung ini. 

Kita sebagai warga bangsa pun menyadari bahwa Pemerintahan Jokowi - Maruf Amin juga tak tinggal diam terhadap situasi pandemic ini. Walaupun tertatih karena berbagai hambatan, setidaknya upaya pemerintah untuk hadir sebagai negara telah maksimal menuntaskan pandemic ini. Penanganan pasien positif, penanganan pasien yang meninggal, proses isolasi, proses pencegahan perluasan covid 19 ini dan juga bantuan sosial untuk bisa membantu warga yang kesulitan di era pandemic ini. Pemerintah telah jalankan berbagai tahapan tersebut dan sudah optimal untuk segera menuntaskan pandemic ini. 


Malam ini adalah malam istimewa bagi rekan/kerabat yang merayakan Natal, peringatan lahirnya sang juru selamat. Yang setiap tahun seharusnya dirayakan ribuan orang dilalui dengan misa bersama, berdoa bersama, lalu dilanjutkan silaturahmi antar keluarga atau antar teman dengan harapan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang. 

Akan tetapi kegembiraan tahunan ini harus dilewati dengan suasana yang sulit, ke gereja dengan prokes yang ketat, setiap tangan yang seharusnya terjabat dengan ribuan tangan lainnya tak bisa dilakukan, demi pencegahan penularan melalui tangan ke tangan. Hanya ribuan doa malam ini yang bisa dipanjatkan bersama-sama dari rumah saja. Keinginan bertemu orang tua atau para sesepuh yang berada diluar kotapun terbatasi dengan adanya prokes yang tak mudah. 


Semoga rekan / kerabat yang merayakan Natal malam ini bisa mendapat hikmah terbaik atas tahun penuh keprihatinan ini. Dan juga senantiasa memanjatkan doa doa terbaik agar kita sebagai Bangsa Indonesia bisa segera melewati situasi sulit ini. Dan doa agar segera berakhirnya pandemic ini agar kita kembali hidup normal. Seperti sediakala. 

Selamat Hari Natal buat semua yang merayakan. Kedamaian hati dan jiwa untuk anda semua di tahun tahun mendatang. 

Salam
Aven Januar 
Forum Jokowi Jawa Timur 


Senin, 14 Desember 2020

Marhaen Djumadi Sang Penggerak Perubahan

SELAMAT ULANG TAHUN
Pak Wakil Bupati Kab Nganjuk

Marhaen Djumadi

--------------------------------

Marhaen Djumadi 

Sang Penggerak Perubahan

Oleh Aven Januar 

Secara langsung saya masih kerabat keluarga besar nganjuk. Tapi saya pribadi mengenal beliau juga dekat dengan alm Papa Dr.H.Suprajitno. kawan dekat yang juga seperjuangan di keluarga besar nasionalis jawa timur.

Saya dekat dengan beliau diawal 2000an ketika beliau adalah salah satu mastermind gurita bisnis pendidikan Lembaga Kursus Primagama area Jawa Timur. Atensi beliau terkait dunia pendidikan luar biasa. Hingga beliau mendapat penghargaan dengan menempati sebagai salah satu pengurus Dewan Pendidikan Jawa Timur. Kata Beliau saat menggiati Pendidikan adalah "Pendidikan itu kunci kesuksesan kemajuan suatu bangsa"

Karena latar belakangnya adalah keluarga besar nasionalis, tak pernah beliau merasa puas dengan kerja dan pemikirannya pada satu bidang saja. Beralih beliau menggiati kegiatan olahraga catur, olahraga masyarakat kebanyakan, di pasar tradisional hingga di kampung kampung, hingga mengantarkan sebagai Ketua Harian Percasi Jawa Timur. Menurutnya ingin dekat dengan masyarakat bawah termasuk mendengarkan keluh kesah rakyat bawah adalah Catur. Saat itu Percasi Jawa Timur melahirkan banyak pecatur pecatur muda berbakat.

Terkait jabatannya saat ini wakil bupati nganjuk, suatu kabupaten kecil yang bertahun tahun dikenal sebagai Penghasil Bawang Merah itu, tak bisa beranjak dari keterpurukan sebagai salah satu kabupaten yang masuk jajaran menengah bawah di Jawa Timur dalam hal prestasi pembangunan maupun geliat ekonomi daerahnya. Melalui kerja bareng bersama Bupati nganjuk yang millenial itu, mas Novi , Nganjuk bisa menggeliat perekonomiannya. Di wilayah sekitar pintu tol nganjuk berdiri beberapa perusahaan asing yang berinvestasi diberbagai sektor. Wilayah tersebut adalah Kawasan Industri Nganjuk (KING). Saat ini kab nganjuk menjadi salah satu kabupaten penyangga bagi kota surabaya khususnya wilayah industri pendukung. Termasuk di awal tahun 2020 ini Grup Perusahaan Besar Maspion Grup dengan target luas kawasan industri seluas 400 hektar dengan kebutuhan 15 ribu tenaga kerja.

Katanya Investor pasti banyak melirik potensi KING tersebut karena luas lahan yang tersedia sangat luas , terjangkau dari surabaya melalui akses tol, kemudahan berizin usaha di seluruh wilayah kab nganjuk dan yang terpenting adalah banyaknya tenaga kerja yang tersedia dengan upah yang kompetitif dengan wilayah lain di jawa timur.

Di usia beliau yang saat ini lebih dari setengah abad, pak Marhaen Djumadi berusaha untuk tetap mengabdi kepada rakyat. Komitmen beliau disampaikan secara pribadi ke saya.

"Kulo Wong Nganjuk Asli wis wayahe Nganjuk Maju dan Wani Berubah, Rukun Santoso agawe Rakyate kanthi makmur,"

Selamat Hari Lahir Pak Marhaen.
Semoga tetap sehat, sukses dan bahagia selalu sekeluarga.

- aven januar -
Forum Jokowi Jawa Timur 


Aven Januar bersama Marhaen Djumadi


Pak Marhaen Djumadi saat Berkunjung Ke Outlet Soto Daging Blitar di Jl Saronojiwo Surabaya. Tahun 2017.


Rabu, 09 Desember 2020

TAHTA UNTUK RAKJAT



TAHTA UNTUK RAKJAT 
AVEN JANUAR 

Selamat dan Sukses pada segenap keluarga besar PDI Perjuangan Jawa Timur yang telah memenangkan pasangan calon Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil Walikota pada Pemilihan Kepala Daerah Serentak 9 Desember 2020  :

1. Kota Surabaya - 
     Eri Cahyadi - Armudji. 
2. Kab Gresik 
     Fandi Ahmad Yani - Aminatun
3. Kab Malang 
     Sanusi - Didik Gatot 
4. Kota Blitar 
    Santoso - Tjutjuk Sunario 
5. Kab Kediri 
    Hanindhito Pramana - Dewi Maria Ulfa
6. Kab. Ponorogo
    Sugiri Sancoko - Lisdyarita 
7. Kab Trenggalek 
     HM nur Arifin - Syah M Natanegara
8. Kab.Ngawi 
     Ony Anwar - Dwi Rianto 
9. Kab. Sumenep 
    Ach. Fauzi - Hj Dewi Khalifa 
10. Kab. Situbondo 
       Karna S - Khoirani 
11. Kab. Banyuwangi 
       Ipuk Fietandani - Sugirah 

Semoga Amanah dalam memimpin wilayah masing - masing dan  Menyerahkan sepenuhnya Tahta Untuk Rakyat.  Kepemimpinan yang menjunjung tinggi hakekat kerjasama yang partisipatif dengan rakyat.  Melaksanakan amanat penderitaan rakyat seperti yang telah diamanatkan oleh Bung Karno - sang ideolog bangsa.  Selamat.....

Saya juga mengucapkan salam hormat untuk seluruh kader dan pengurus PDI perjuangan yang telah berjuang dengan sehebat-hebatnya di Kab Sidoarjo,  Kab Lamongan, Kab. Tuban,  Kota Pasuruan, Kab Jember, Kab. Blitar,  Kab. Mojokerto, Kab. Pacitan meskipun hasil quick count masih ketinggalan jumlah suara tetap berusaha mengawal suara sampai final penetapan KPUD. 

Merdeka !!!

Aven Januar 
Forum Jokowi Jawa Timur.




Jumat, 18 September 2020

Syair Anak Mentari By Bung Aven

Anak Mentari
Bung Aven


Kenapa aku harus tertunduk dan tersipu ketika aku hanya terlahir dari keluarga di tepian kota

Yang justru banyak mengajarkan aku tentang bagaimana menegakkan kepala untuk tidak sombong

Yang banyak mengajarkan tentang menikmati indahnya keterbatasan

Yang mengajarkan aku bagaimana mengepalkan tinju keatas tanpa harus menantang keadaan

Banyak yang putih dan hitam datang menawarkan bantuan untuk ku melangkah.

Tapi kutolak dengan perlahan, kujawab dengan tegas

Jika mentari mampu memberikan sinarnya esok hari maka aku akan berdiri didepannya dan tetap hidup

Jika sang bulan masih setiap malam menyapaku dengan senyuman, kuhantarkan kepala ku untuk meneduhkan dalam belaiannya

Banyak yang bersedih hati untuk menangisi keadaan yang serba terbatas

Kuteriakan kepada mereka tentang apa yang harus mereka bangunkan

Tak ada satu pemerintah pun di dunia yang mau memikirkan kita

Tak ada satu pun pemimpin yang mau menanggungjawabi kesedihan di malam-malam mu

Tak ada satu pun, Ingat Itu !!!!

Biarkan hari ini dan esok, kita bertarung, ya bertarung seperti singa yang sedang lapar

Biarkan rasa lapar menjadi kan kita gagah layaknya bloody martini

Tapi ingat tetap Cerdiklah seperti Ular dan Tuluslah seperti Merpati

karena kita terlahir sebagai anak mentari yang dibanggakan oleh para kaum papa

Karena kita anak mentari !!! alam lah yang membelai mu, alam lah yang menjaga mu, alam lah yang mengajarkan mu……

Bung Aven

Senin, 03 Agustus 2020

Dirgahayu Mas D. Adi Sutarwijono S. Ip.


Sosok sederhana dan mudah bergaul itu mungkin karakter asli dari ex jurnalis senior ini.  Nama lengkapnya D. adi Sutarwijono S. ip.  Sosok ini dibesarkan dari Karangsari Kec Sukorejo Kota Blitar ini. Putra dari Guru SD yang dulu saya kenal waktu pos jurnalisnya dia di warung kopi pinggir kalimas disebelah gedung DPRD kota surabaya sekarang di awal tahun 2000an. 

Dulu guyonannya "Nek aku sesuk ngantor nang njero iku,  kabeh sing ngopi nang pinggir kali tak pindah nang njero" hehehehe kelakar khasnya itu jadi kenyataan karena beliau sekarang adalah ketua DPRD kota Surabaya.  Dan kami pun ngopi rutin didalam ruangan ketua DPRD kota Surabaya hehehehe

Saat menjadi tim kerja bersama beliau dalam beberapakali periode kampanye mulai dari Kampanye Pilgub 2008 , pilgub 2013 dan Pilpres 2014, mas awi panggilan akrabnya ini sosok yang disiplin terkait timeline kerja.  Katanya "Gagal dalam suatu pekerjaan itu hal biasa,  tapi kita semua harus disiplin waktu kerja agar setiap kita menghargai waktu, " . Quote nya ini menjadi salah satu ajaran yang kupegang sampai hari ini.  
Hari ini mas awi ulang tahun semoga tetap sukses selalu.  Terlalu sederhana sehingga tak pernah punya FB.  ataupun sosmed yang lain.  

Salam saya, 
Teman ngopimu mas 

- aven januar -

Selasa, 07 Januari 2020

Megawati Raih Gelar Doktor (HC) yang ke-9

Raih Gelar Honoris Causa Ke-9 yang Diterima Hj. Megawati Soekarnoputri dibidang Kemanusiaan.

Megawati Bersama Rektor 
Soka University Japan

Pertamakali gelar Honoris Causa dibidang kemanusiaan diraih Ketum DPP PDI Perjuangan Hj Megawati Soekarnoputri . Setelah tiga bidang lainnya telah diraihnya yakni dibidang hukum Dan Pemerintahan serta spesialisasinya yakni dibidang Politik.
Mungkin yang tidak kenal beliau akan segera menyinyirnya apalagi yang berseberangan dengan Megawati Secara politik.

Saya pribadi menilai Megawati ini cukup fenomenal Dan bersejarah, saat ini Megawati adalah perempuan satu satunya di Asia yang memiliki Garis politik terpanjang selaku Ketua Umum Partai Politik. Jika dihitung sejak Kongres Luar Biasa PDI 1993 berarti total Megawati telah memimpin Parpol selama 27 tahun ! Luar Biasa !

Sejak pertamakali direkrut PDI selaku Jurkamnas - Juru Kampanye Nasional pada Pemilu 1987 , Megawati dengan telaten merekrut Dan merangkul arus bawah Suara parpolnya. Dan mampu merebut hati rakyat Indonesia dengan ikon Keluarga besar Proklamator Indonesia, yakni Soekarno. Megawati keliling Indonesia, masuk ke pelosok-pelosok Nusantara dengan kesederhanaan Dan keahliannya dalam meyakinkan massa rakyat.

 
            Megawati Saat di KLB PDI 1993

Alhasil, hasil Kursi PDI di DPR RI yang "hanya" 40 Kursi pada Pemilu 1987 meingkat menjadi 56 Kursi pada Pemilu 1992 atau bertambah 16 Kursi DPR RI. Hasil ini yang menyebabkan Pemerintah Orde Baru Berusaha menggagalkan hasil pemilihan KLB PDI 1993 di asrama haji surabaya, yang Secara aklamasi menunjuk Megawati sebagai Ketua Umum PDI.
Satu yang serius menjadi Catatan kami sebagai kader parpol atau setidaknya yang pernah kenal dengan nya Megawati adalah Sosok yang bersahaja Dan sederhana. Setiap kali mengenalkan dirinya Kepada yang lebih muda, dia selalu menyebut dirinya dengan "Panggil Saja Mbak Mega".

Sosok berusia 72 tahun ini juga melahirkan konsepsi tentang bentuk Kepartaian Secara modern. Mulai perbaikan mekanisme Kongres Partai sejak Kongres Rakyat PDI Perjuangan 8-10 Oktober  di Denpasar Bali. Warga PDIP menyebutnya sebagai Kongres Rakyat, Bali Merah Total !

Megawati yang terpilih Secara aklamasi pada Kongres Rakyat bergerak cepat dengan menyusun Piagam PDI Perjuangan, AD/ART Partai yg akhirnya disahkan oleh Notaris Pada 1 Februari 1999 dengan nama PDI Perjuangan dengan logo Moncong Putihnya. Dideklarasikan di istora senayan 14 Februari 1999, yang mana saat itu dikenal "Jakarta Merah Total" ! Media Massa Luar Negeri Waktu itu menyebut 300 Ribu Massa Rakyat Jakarta turun kejalan menyambut Deklarasi PDI Perjuangan di Istora Senayan Dan siap mengikuti Pemilu Pertama di Era Reformasi 1999.

Dan pada Pemilu 1999 PDI Perjuangan Meraih Suara 35.689.073 Suara atau setara 33,74% Suara sah nasional Dan berhasil Meraih 153 Kursi.

Pasca Pemilu 1999 Megawati setelah menyusun langkah Konstitusional Partai Secara Internal Dan Eksternal. Megawati segera bersiap melakukan langkah - langkah  organisasional dimulai saat Kongres 1 di Semarang pada tahun 2000. Dimana Pasca Kongres Semarang mulai dilakukan langkah langkah kaderisasi partai Dan kaderisasi bagi anggota Dewan yang terpilih melalui Pemilu 1999. Megawati sadar bahwa kader partai awalnya adalah arus bawah yang rendah Secara kualitas berpolitik nya maupun rendah skill berorganisasinya.


Ditengah keseriusannya menata organisasi, PDI Perjuangan mengalami ujian yang cukup berat yakni kekalahan dalam Pemilu 2004 Termasuk Pilpres dimana Megawati berpasangan dengan Ketua PBNU alm KH Hasyim Muzadi, serta kehilangan Kursi cukup Banyak di DPR RI. Megawati Waktu itu Secara tegas mengatakan "PDIP Oposisi!" "PDIP Oposisi Konstitusional , Oposisi yang siap melakukan kritik dan penyeimbang bagi koalisi Pemerintah SBY-JK". Suatu langkah strategis Kepartaian yang cukup berat di Era Reformasi, tapi Megawati tetap melakukannya dengan target strategis adalah merebut kekuasaan pada Pemilu Selanjutnya.

Sepanjang Dua Periode PDIP sebagai Oposisi, melakukan gerak senyap tanpa pemberitaan media, dengan tetap konsisten melahirkan kader-kader muda potential hasil kaderisasi internal partai sebagai calon pimpinan nasional selanjutnya. Lahirlah Joko Widodo, Djarot Syaiful Hidayat, Ganjar Pranowo, Tri RismaHarini, Dan lain-lain. Walaupun ada beberapa kader partai yang keluar Dari PDI Perjuangan, Megawati hanya bersikap "Ini dinamika berpolitik Dan dinamika berorganisasi, yang keluar Silahkan keluar, yang didalam tetap Terus konsolidasi!".

Alhasil Pada Pemilu 2014 PDI Perjuangan berhasil mencapai tujuan strategis yang telah ditetapkan oleh Megawati yakni Merebut kekuasaan untuk rakyat. Melalui pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla Meraih 70.997.883 Suara atau setara 54,15% Suara sah nasional pada Pilpres 2014. Sedangkan PDI Perjuangan Pemenang Pileg 2014 dengan hasil 23.681.471 Suara atau setara  dengan 18,95% Suara sah nasional.

Dilanjutkan dengan Kemenangan PDI Perjuangan dan Pasangan Jokowi-Maruf Amin pada Pileg/Pilpres 2019. Jokowi - Maruf Amin memperoleh 85.607.362 atau setara 55,50 persen suara sah nasional. Sedangkan PDI Perjuangan memenangkan Pileg dengan perolehan 27.053.961 Suara atau setara 19,33% Suara sah nasional.

Saat ini Megawati telah Meraih Banyak penghargaan nasional maupun internasional, saat ini melalui PDI Perjuangan , Megawati menetapkan arah Dan perjuangan strategis pembangunan nasional Pasca direbutnya Kemenangan pada Dua Pemilu terakhir. Berbagai agenda program kerakyatan dan kebangsaan telah ditetapkan Dan saatnya PDI Perjuangan melaksanakannya dan mampu merebut Kemenangan Sejati rakyat Indonesia.


   


Selamat Kepada Megawati Soekarnoputri yang telah Meraih gelar Honoris Causa nya yang kesembilan Dari Universitas Soka, Tokyo, Jepang, Rabu (8/1/2020) dalam Bidang Kemanusiaan. Gelar HC ini diberikan karena Megawati dinilai Banyak memberikan sumbangsih pemikiran Dan tindakan dibidang Kemanusiaan.


- Aven Januar -

Ketua Departemen Pembinaan UKM DPD PDI Perjuangan Jawa Timur 2005 - 2010

Ketua Departemen Pemuda 
DPD PDI Perjuangan Jawa Timur 
2010 - 2015

Badan Infokom DPD PDI Perjuangan Jawa Timur 2010 - 2015


Contact penulis : avenjatim@gmail.com

Kamis, 26 Desember 2019

Gerakan Semut Ireng

                                Ir H Sutjipto
 
Senin, 28 November 2011 diposting pada kategori ARTIKEL
 
Gerakan Semut Ireng
Oleh Aven Januar
 
PDI Perjuangan telah kehilangan salah satu kader terbaiknya, Ir H  Sutjipto pada 24 November 2011 lalu. Sutjipto dalam perjalanan hidupnya  memang tak bisa dilepaskan dari dinamika PDI Perjuangan dan Megawati  Soekarnoputri selaku Ketua Umum partai. Dalam karir politiknya, selain  dikenal sebagai tokoh kharismatik di kalangan politisi Jawa Timur,  Sutjipto juga banyak meninggalkan ide-ide besar khususnya dalam  perjalanan sejarah PDI (pada era orde baru), PDI Pro Mega (1996-1999)  hingga PDI Perjuangan.  Ide-ide besar tersebut pada kenyataannya,  selain Dasa Prasetya PDI Perjuangan belum pernah terbukukan secara rapi.  Akan tetapi pada tingkatan semangat dan gairah berorganisasi, banyak  ide Sutjipto terlaksana secara nyata khususnya bagi para kader PDI  Perjuangan yang pernah beriringan melakukan perjuangan bersamanya.
 
Salah satu ide besar yang pernah disumbangsihkan Sutjipto dalam masa  akhir sebelum tumbangnya orde baru adalah gerakan semut ireng. Gerakan  ini lahir pasca Pemilu 1987, yang pada waktu itu Sutjipto adalah  Sekretaris DPD PDI Jawa Timur, dalam kerangka menyusun konsep pemenangan  Pemilu 1992. Secara sederhana konsep gerakan ini berbasiskan kepada  semangat gotong royong dan soliditas massa PDI yang pada waktu itu dalam  jumlah kecil dibanding dua partai yang lain PPP dan Golkar. Walaupun  kecil tapi Sutjipto melihat bahwa adanya potensi yang besar dari  soliditas antar kader partai. Sehingga untuk menyatukan segala potensi  dan gerak langkah partai, Sutjipto meluncurkan Gerakan Semut Ireng itu.
 
Gerakan Semut Ireng, ditinjau dari gerakan politik adalah semangat  awal untuk memberikan perlawanan terhadap rezim orde baru, yang dikenal  rezim yang penuh korupsi, kolusi dan nepotisme. Kemiskinan di beberapa  wilayah, kesenjangan sosial yang begitu tinggi pada waktu menjadikan  gerakan semut ireng cepat diterima oleh banyak kalangan masyarakat bawah  di Jawa Timur. Sutjipto sebagai sekretaris DPD PDI Jatim saat itu, juga  mengoptimalkan mesin partai pada tingkatan lokal untuk turut  mengampanyekan gerakan semut ireng tersebut. Ada tiga hal dasar yang  menjadi percepatan diterimanya Gerakan Semut Ireng ini, yang pertama  adalah gerakan tanpa kesenjangan struktural, yang dimaksudkan adalah  melaksanakan gerakan ini struktural PDI dari jenjang daerah, kabupaten  hingga pengurus kecamatan bergerak bersama tanpa adanya kesenjangan  antar jabatan di struktural. Lalu yang kedua adalah memegang teguh  ideologi yang diyakini bersama walaupun ideologi marhaenisme diputuskan  terlarang oleh rezim orde baru, akan tetapi secara sadar kader PDI  diseluruh pelosok negeri meyakini bahwa marhaenisme ajaran Soekarno  adalah ideologi politik yang dipilih. Dan yang ketiga adalah  kepemimpinan, yang dimaksudkan disini adalah figur pemimpin partai yang  bisa menjadi pengikat antar golongan dan elemen yang ada di tubuh partai  untuk mencapai tujuan bersama.
 
Dalam hal meniadakan kesenjangan struktural, Sutjipto selaku  sekretaris DPD menginstruksikan kepada jajaran di bawahnya untuk membuka  ruang komunikasi antar pengurus struktural baik secara vertikal maupun  horisontal dan melakukan gerakan ke basis secara berkala. Setiap  pengurus hendaknya menerima saran dan kritikan dari jenjang struktural  di bawahnya khususnya terkait dengan pembinaan dan pendidikan politik  bagi kader-kader partai. Dan disarankan untuk tetap menekan angka  konflik diantara pengurus struktural. Menekan angka konflik di PDI,  bukanlah persoalan mudah. Sebagai parpol yang merupakan hasil fusi,  banyak unsur dan golongan di tubuh partai yang merupakan potensi konflik  di masa depan. Akan tetapi dengan membuka ruang komunikasi dan  kunjungan berkala menyebabkan Sutjipto berhasil meredam konflik terbuka  yang terjadi di tubuh partai. Dalam hal ini Sutjipto dikenal sebagai  salah satu pengurus partai dari Provinsi pada masa itu yang rutin  melakukan kunjungan kerja daerah baik formal maupun non formal.
 
Untuk Permasalahan ideologi politik ini, pasca diberangusnya  ideologi marhaenisme ajaran Soekarno pada awal 1970an, kader partai PDI  hanya bisa menyuarakannya melalui perorangan. Semangat gotong royong  yang menjadi landasan ajaran marhaenisme Soekarno, menjadi landasan  gerak basis bawah PDI khususnya dalam menerjemahkan langkah-langkah  taktis strategis Gerakan Semut Ireng ini. Dalam membuat keputusan maupun  kebijakan partai, Sutjipto menekankan pada semangat gotong royong. Baik  soal pendanaan partai maupun penyikapan terhadap kebijakan partai.  Selain itu, pendidikan kader partai yang massa itu hanya berupa diskusi  kelompok kecil 5 hingga 6 orang saja, Ideologi Marhaenisme ajaran  Soekarno menjadi topik bahasan yang serius. Ideologi Politik, menjadi  penting menurut Sutjipto, hal ini karena ideologi menjadi alat pemersatu  terhadap beragam keinginan antar anggota partai yang berada di  dalamnya. Rumusan perjuangan partai dan pokok-pokok pikiran partai  didasarkan pada ideologi politik tersebut. Melalui pilihan ideologi yang  jelas, maka suatu gerakan bersama tersebut bisa dinamakan sebagai  gerakan politik. Dan pilihan jelas tersebut adalah kemampuan untuk  mengartikulasikan kepentingan masyarakat dan mampu memperjuangkannya.
 
Yang terakhir adalah persoalan kepemimpinan, di masa itu PDI masih  bergantung kepada figur Soerjadi sebagai ketua umum dan Latief  Pudjosakti sebagai Ketua DPD PDI Jatim, akan tetapi Sutjipto melihat  adanya kekurangan dua figur tersebut untuk menjadi magnet penarik massa  pemilih. Maka dengan gerak cepat pula, Sutjipto menggandeng Guruh  Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi magnet dan sosok  figur pemimpin PDI di masa mendatang. Walaupun dalam perjalanannya,  Sutjipto lebih memilih Megawati sebagai figur kepemimpinannya, maka  Gerakan Semut Ireng sebagai gerakan untuk membangun kekuatan politik  telah memenuhi prasyaratnya. Megawati dan Sutjipto berkeliling ke  seluruh cabang se-Jatim untuk menggerakan arus bawah partai.
 
Selain ketiga hal di atas, yang perlu dicermati dalam melihat gerak  nyata Gerakan Semut Ireng adalah kampanye getok tular, dari satu pintu  ke pintu yang lain, dari orang ke perorangan yang lain. Sutjipto cukup  tangguh untuk bisa melaksanakan kampanye perorangan tersebut dengan  mengerahkan segenap potensi partai di masa itu. Berbagai jenis acara  konsolidasi partai dilaksanakan sosialisasi Gerakan ini secara nyata.  Sutjipto juga berhasil membuka ruang komunikasi dengan elemen demokrasi  yang lainnya seperti gerakan pemuda, dan gerakan kemasyarakatan lainnya.  Yang menurutnya jejaring kekuatan eksternal partai mampu menjadi  lingkaran penguat dari gerakan semut ireng ini. Sehingga mampu  menciptakan kesan bahwa gerakan semut ireng ini adalah gerakan murni  dari masyarakat dan bukan semata milik PDI saja.
 
Secara perlahan, Gerakan Semut Ireng, berhasil meningkatkan suara  PDI saat Pemilu 1992. Di wilayah mataraman yang kental dengan politik  abangan berhasil mendulang suara cukup signifikan. Peningkatan suara  terjadi di Kabupaten Nganjuk, Kab Kediri, Kab Blitar, Trenggalek dan  Ponorogo. kota-kota besar seperti Kota Surabaya, Kota Malang, dan Kota  Madiun juga terjadi peningkatan suara walaupun tidak sebesar di wilayah  Mataraman. Gerakan Semut Ireng telah menciptakan tradisi baru dalam  kehidupan parpol di masa itu khususnya di Jatim. Sebagai contoh, gelaran  kegiatan partai pada masa itu kental dengan suasana gotong royong baik  dana maupun sumbangsih tenaga dan pikiran.
 
Gerakan Semut Ireng terhenti pasca terjadinya konflik PDI pada  Kongres Luar Biasa 1993 yang dilaksanakan di Asrama Haji Surabaya.  Menguatnya Megawati sebagai salah satu sosok pemimpin di masa mendatang,  membesarnya kekuatan perlawanan-perlawanan, semakin memperlemah  kredibilitas Rezim Orde Baru di mata rakyat. Sehingga seluruh kekuatan  PDI baik struktural maupun suara arus bawah terkondisikan oleh situasi  konflik tersebut. Sutjipto sebagai pemegang SK 043 yang menyatakan  dirinya sebagai Ketua DPD PDI Jatim didukung oleh arus bawah partai pada  masa itu. Sehingga puncaknya terjadi peristiwa 27 Juli 1996. Dan pada  akhirnya proses berlanjut pada kejatuhan rezim orde baru.
 
Meninjau dinamika parpol dan demokrasi saat ini, perlu menjadi  perhatian khusus terhadap ide besar Sutjipto tentang Gerakan Semut Ireng  ini. Tuntutan arus bawah saat ini adalah Parpol tidak boleh lagi  sekadar mengartikulasikan kepentingan segelintir orang saja tetapi lebih  jauh adalah bersama rakyat untuk memperjuangkan aspirasi wong cilik,  seperti yang selalu diamanatkan oleh Sutjipto pada berbagai kesempatan.  Setidaknya almarhum Sutjipto telah menjadi warna bagi perjalanan sejarah  bangsa dan demokrasi sejak sebelum kejatuhan orde baru hingga akhir  hayatnya. Selamat Jalan Pak Tjip... (*)
 
Penulis adalah Ketua Departemen Pemuda DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Periode 2010-2015
 
Kontak Penulis fb Aven Januar
 
Sumber Berita :
 
http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v03/index.php?mod=berita&id=5020t

Selasa, 08 Januari 2019

Suhu Politik Memanas, Masyarakat Harus Cerdas

Suhu Politik Memanas, Masyarakat harus Cerdas

Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, suhu politik dan sosial di Indonesia cenderung memanas karena perbedaan politik. Semakin gencarnya berita berbasis informasi palsu atau hoax menbangun kondisi dan situasi politik semakin panas.

Sekjen Lembaga Soekarno House Indonesia, Aven Januar mengajak kepada seluruh masyarakat untuk cerdas dalam menyaring segala informasi yang diterima. Serta cerdas dalam menyikapi segala informasi baik yang hoax maupun yang tidak hoax dalam kerangka menjaga semangat persatuan dan kesatuan dibalik perbedaan politik yang ada.

"Perbedaan politik, harus disikapi dengan cerdas, supaya tidak terjebak dalam situasi saling memanasi, saling menghujat dan saling mengolok-olok," jelas Aven Januar dalam Diskusi Internal Lembaga Soekarno House di Surabaya, kemarin (07/01/2019).

Pada diskusi tersebut, Aven mengingatkan agar rakyat Indonesia menghilangkan rasa kebencian antar sesama dengan menanamkan semangat kekeluargaan, semangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap keberagaman. Serta menjaga semangat persatuan dan kesatuan demi keutuhan NKRI.

Menurutnya, perbedaan politik hal yang wajar, namun menjaga kerukunan dan kekeluargaan antar sesama adalah amanat para penderi negeri ini.

"Bung Karno, telah menyerukan perbedaan dan keberagaman Bangsa Indonesia adalah Rahmat Allah SWT yang harus disyukuri, tapi Tuhan tidak menginginkan adanya perpecahan karena perbedaan tersebut," papar mantan Ketua Dep Pemuda DPD PDI Perjuangan Jawa Timur 2010-2015 ini.

Situasi saling memanasi ini, lanjut Aven akan terus berlangsung sampai hari H pemilihan, maka itu seluruh elemen masyarakat harus mampu menjaga kecerdasannya dalam menyikapi.

"Anggaplah Pilpres dan Pileg sebagai ajang pembelajaran demokrasi, yang semakin memperkuat kecerdasan kita dan bukan justru terjerembab dalam kebodohan," pungkas Aven
(*)

Sumber Berita :

https://hai.radarmalang.id/suhu-politik-memanas-masyarakat-harus-cerdas/

Kamis, 16 Maret 2017

SALAH SATU GURU POLITIK KU HARI INI MENINGGAL DUNIA

SALAH SATU GURU POLITIK KU HARI INI MENINGGAL DUNIA

Suatu ketika di penghujung 2004, tetap menggunakan sarung dan baju koko berwarna putih bersih serta bersongkok hitam. Di kondisi santai tanpa beban itu, aku bertanya "bah, kenapa abah yang kyai malah maju sebagai cawapres, yg saya yakin abah mengerti sebelumnya jika akan kalah dan dana akan banyak keluar?"

Dia menghela nafas, dan bertanya kembali ke saya "kenapa kamu merokok dan saya juga yakin kalo kamu mengerti kalo rokok justru menghabiskan uangmu dan akan mengganggu kesehatanmu?"

Aku pun berusaha tenang dalam menjawab pertanyaan seorang hadratus syeikh, seorang yang dimuliakan Allah SWT karena kekuatan ibadah dan syiarnya kemana mana. "Alasan pertama, alhamdulillah sampai hari ini saya masih diberi rejeki oleh Allah SWT untuk saya berkemampuan membeli rokok tersebut dan yang kedua saya juga yakin bahwa umur dan kesehatan saya pasrahkan semua kepada Allah SWT, karena hanya Dia yang menjawab tentang umur dan kesehatan itu bah," jawabku yang kuusahakan untuk serasional mungkin menjawab pertanyaan beliau.

Abah Hasyim - demikian para santrinya memanggil beliau - mengajakku bangkit berkeliling ponpes Al Hikam yang waktu itu masih beberapa tahun dirintisnya. "Begitu pula dengan alasan saya, dik. Yang pertama, rejeki Allah SWT Maha Luas sehingga saya dan keluarga diberi kesempatan menyisihkan rejeki untuk bisa membantu banyak umat islam dan dibanyak tempat dalam perjalanan saya hampir 1 tahun lamanya berkeliling kampanye," jawabnya sambil melihat beberapa tanaman di halaman ponpes yang berhasil ditanam oleh para santri mahasiswa di Ponpes Al Hikam.

Sambil menghela nafasnya dan mulai berkeringat karena jalan jalan pagi itu, dia menjawab alasan keduanya. "Setiap umat Islam dan pengikut Nabi Muhammad SAW, haruslah berbekal pada optimisme, optimisme itu wujud tawakal dan ikhtiar kita yang paling ringan, optimis dalam menjalani setiap langkah kehidupan horizontal kemanusiaannya dan kemanusiaannya kita semua, termasuk diantaranya soal menang dan kalah dalam kampanye pilpres kemarin, siapa bilang saya yakin kalah ? Saya bersama Ibu megawati tetap dalam kerangka optimis menang. Kenapa harus begitu ? Karena saya yakin dalam kemenangan itu akan semakin banyak umat yang bisa saya bantu baik soal kesejahteraannya, kemakmurannya maupun kemerdekaannya sebagai umat manusia yang hidup di alam raya nya Indonesia ini,"

"Minum kopinya dulu dik, kopi ini saya bawa dari timor nusa tenggara timur," katanya memotong alasan keduanya itu. "Tapi dik segala bentuk ikhtiar dan tawakal kita tetap kita serahkan pada Allah SWT termasuk soal kekalahan kemarin, saya sudah sampaikan ke ibu mega, jika kita sudah bertarung dengan sebaik baiknya, dan sehormat hormatnya sebagai salah satu insan politik, tapi kekalahan ini adalah wujud kesabaran kita dalam menghadapi segala persoalan kehidupan ini," menjawab dengan diplomatisnya.

Hari ini hari kamis (15/09) , hatiku setengah menjerit ketika jam setengah tujuh pagi tadi mendapat telpon dari seorang kawan di malang, "Ven, abah sudah meninggal dunia, usahakan datang ya untuk mensholatinya dan mendoakkannya," ..... ahhhhhh.... satu lagi guru politikku telah meninggal dunia... bangkit aku dan segera berangkat ke malang.

Selamat jalan bah......
Selamat Jalan Hadratus Syeikh KH Hasyim Muzadi

Dari santrimu....
Aven Januar Aven Januar Full ....

Jumat, 25 Maret 2016

Menakar Peluang Kader Internal PDI Perjuangan Jawa Timur dalam Pilkada Jatim 2018


MENAKAR PELUANG KADER INTERNAL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR DALAM PILKADA JATIM 2018
Oleh : Aven Januar
Badan Infokom DPD PDI Perjuangan Jawa Timur


Situasi politik untuk pemilu kepala daerah Jawa Timur 2018 terus menghangat. Saat ini, perhatian sedang menyoroti arah dukungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).  PDI-P, sebagai partai pemilik 19 kursi di DPRD Jatim ini bisa menjadi suatu kekuatan bagi bakal calon gubernur yang ingin menarik dukungan dari partai politik. Dengan 19 kursi, PDI-P hanya membutuhkan 1 kursi dari parpol koalisi lainnya untuk memenuhi prasyarat dukungan. Beredar banyak nama yang masuk dalam radar Dewan Pimpinan Pusat maupun Dewan Pimpinan Daerah PDI-P, diantaranya adalah Wakil Gubernur Incumbent, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, hingga Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Terlepas dari mekanisme penjaringan internal maupun spekulasi yang berkembang, penulis menilai peluang PDI-P dalam Pilkada Jatim 2018 menjadi sorotan serius bagi para pelaku politik lainnya maupun partai politik lainnya khusus tampilnya kader internal PDI-P menuju kursi panas Gubernur Jawa Timur 2018 – 2023 ini. Ada dua hal utama yang menjadi rujukan serius terkait positioning PDI-P Jatim dalam Pilkada 2018. Pertama soliditas basis massa internal partai yang sudah diakui selama ini hal ini juga tercatat perkembangan suara pemilih PDI-P Jatim sejak 2004, 2009 hingga 2014 mengalami peningkatan walaupun rata-rata suara belum setara dengan suara PDI-P di tahun 1999 lalu. Kedua, kemampuan PDI-P dalam memberikan efek kejut, khususnya terkait calon internal partai, hal ini bisa ditinjau dari Pilkada DKI 2013 dengan memunculkan Joko Widodo, dan pada Pilkada Jawa Tengah di tahun yang sama dengan calon internal Ganjar Pranowo, saat itu keduanya merupakan calon underdog diantara calon yang diusung partai lainnya.

Menakar Calon Gubernur dari Kader Internal PDI-P Jatim

Penulis mencatat setidaknya ada 6 (enam) kader internal partai PDI-P Jatim yang bisa muncul sebagai kandidat dengan efek kejut yang tinggi dalam Pilkada Jatim 2018 
mendatang. Yakni :


1.      1. Pramono Anung
Diantara cagub internal lainnya, tingkat popularitas senior partai ini dibilang lumayan baik dikalangan internal partai maupun eksternal partai. Walaupun saat ini Pramono Anung, menjabat sebagai Menteri Sekretaris Kabinet sejak 12 Agustus 2015 lalu ini, tapi Pramono Anung adalah salah satu kader internal yang diprediksi mampu menandingi popularitas Gus Ipul sebagai kandidat cagub incumben. Ketokohan Pramono Anung dikalangan struktural partai kota/kabupaten hingga tingkat kelurahan memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat. Hal ini juga didorong dengan latar belakang terpilihnya Pramono Anung sebagai anggota DPR RI selama 4 periode berturut-turut melalui Daerah Pemilihan Jawa Timur. Pasca meninggalnya tokoh sentral PDI-P Jawa Timur, yakni Ir. Soetjipto (eks Cagub Jatim 2008), figur Pramono Anung dipercaya mampu menjadi figur pemersatu dikalangan internal partai di Jawa Timur.

2.      2. Kusnadi
Figur Ketua DPD PDI-P Jatim ini juga salah satu yang dipercaya mampu menjadi figur pemersatu partai dikalangan internal partai. Tingkat Popularitas tokoh senior partai ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata, Kusnadi adalah salah satu Anggota DPRD Jatim yang telah terpilih selama 4 kali berturut-turut melalui Daerah Pemilihan I Jawa Timur, Surabaya-Sidoarjo. Sebelum menjabat sebagai Ketua, Kusnadi adalah Sekretaris DPD, keberhasilan beliau sebagai panglima mesin internal partai, keberhasilannya meningkatkan suara partai 2009 menuju 2014, adalah keberhasilan Kusnadi yang tercatat dikalangan internal partai. Selain basis dukungan politik, Kusnadi yang memiliki latar belakang sebagai Pendidik, yakni Staf Pengajar Universitas 17 Agustus Surabaya, figur Kusnadi juga memiliki basis dukungan yang luas khususnya dikalangan pendidik atau dunia pendidikan di Jawa Timur.  

3.      3. Bambang Dwi Hartono

Mantan Walikota Surabaya dua periode ini juga merupakan salah satu tokoh internal partai PDI-P Jatim yang memiliki popularitas tinggi di Jawa Timur. Kinerjanya selama dua periode memimpin Kota besar nomer dua Se-Indonesia ini, dipercaya masyarakat Jawa Timur sebagai keberhasilan yang luar biasa. Ketika menjabat Walikota Surabaya, Bambang DH menggarap banyak program populis di Kota Surabaya, antara lain penataan drainase kota secara besar-besaran untuk antisipasi banjir, menata dan banyak membangun taman kota sebagai lahan resapan air, hingga penggratisan biaya sekolah dasar dan menengah. Dibawah kepemimpinan Bambang DH, pada tahun 2009, Surabaya meraih penghargaan “The Best Cost Effectiveness City” dari 133 kota lainnya se-Asia. Penghargaan tersebut ditujukan atas keberhasilannya menciptakan kota dengan biaya hidup paling murah atau rendah se Asia. Selain keberhasilan dalam memimpin birokrasi, Bambang DH panggilan akrabnya, juga dikenal dikalangan internal partai, sebagai tokoh kontroversial yang memiliki basis dukungan fanatik yang kuat. Selain Pramono Anung, Bambang DH juga dikenal dikalangan internal partai, sebagai pewaris Ir.Sutjipto sebagai figur pemersatu partai.

4.      4. Tri Rismaharini

Walikota Surabaya dua Periode ini juga memiliki popularitas yang tinggi, dengan gaya kepemimpinan sederhana dan blak-blakan ini dipercaya masyarakat sebagai kepemimpinan ala arek Jawa Timur. Risma panggilan akrabnya ini adalah wanita pertama yang terpilih sebagai Walikota Surabaya sepanjang sejarah. Risma juga tercatat sebagai Walikota wanita pertama melalui mekanisme pemilihan langsung sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia ini. Berbagai prestasi nasional maupun internasional telah diraihnya, menjadikan figur risma menjadi penantang serius bagi kandidat kuat, Gus Ipul. Dikalangan internal partai PDI-P, Risma adalah figur baru mengingat latar belakangnya sebagai mantan birokrat karier di Pemkot Surabaya ini. Tapi mengingat popularitasnya yang tinggi, kalangan internal partai pun perlahan mulai menaruh kepercayaan untuk menjadikan Risma sebagai salah satu Cagub yang mampu memberikan kemenangan bagi PDI-P Jatim setelah gagal dalam Pilkada 2008 maupun 2013 lalu ini.

5.      5. Budi Sulistyono

Wakil Bupati Ngawi dua periode dan Bupati Ngawi dua periode ini merupakan salah satu calon yang memiliki garis kepemimpinan terpanjang di Jawa Timur. Jika selesai masa jabatan periode keduanya ini, maka Budi Sulistyono atau yang akrab disapa Kanang ini telah memimpin Kabupaten Ngawi selama 20 tahun. Selain kepemimpinan yang panjang, Kanang juga salah satu Bupati di Jawa Timur yang memiliki sederet prestasi yang tidak bisa dianggap remeh, antara lain program penghijauan yang menyabet prestasi penghijauan tingkat nasional, program penyelamatan sejumlah cagar budaya dimulai dari benteng Van Den Bosch, dan bangunan bersejarah peninggalan dr KRT Radjiman Wedyodiningrat. Disebagian besar Jawa Timur bagian barat, Kanang memiliki tingkat popularitas dan tingkat elektabilitas yang tinggi.

6.      6. Eddy Rumpoko

Walikota Batu dua periode ini 2007-2012 dan 2012 – 2017 ini merupakan putra sulung almarhum Brigjen Sugiyono yang dikenal Ebes Sugiyono yang merupakan perintis berdirinya PS Arema bersama Acub Zaenal. Sejak menjabat sebagai Walikota Batu pada 2007 lalu, Eddy Rumpoko berhasil menyulap Kota Batu sebagai destinasi wisata nasional. Berbagai Inovasi dan terobosannya, saat ini obyek wisata Kota Batu telah meningkat menjadi 10 objek wisata pada tahun 2014 lalu. Beberapa diantaranya telah dikenal sebagai wisata nasional yakni Jatim Park, Museum Transportasi Nasional dan Batu Night Spectacular. Dengan latar belakang pribadi yang kental dikalangan Arema mania, sosok Eddy Rumpoko memiliki popularitas yang begitu tinggi khususnya di wilayah Malang Raya dan Sekitarnya.

Selain faktor ketokohan kader internal, PDI-P Jatim memiliki keunggulan yang lain dibanding parpol lainnya, yakni kemenangan 13 pilkada dari total 19 pilkada serentak di 9 desember 2015 lalu ini. 70% diantaranya adalah kader internal PDI-P, yakni, Tri Rismaharini di Kota Surabaya, Samanhudi Anwar di Kota Blitar, Marhaenis di Kab Blitar, Yusuf Widiatmoko di Kab Banyuwangi, Raharto Teno di Kota Pasuruan, Budi Sulistyono di Kab Ngawi dan Hariyanti Sutrisno di Kab Kediri. Terlepas dari keberhasilan dalam Pilkada Kab/Kota tidak berpengaruh secara signifikan dalam Pilkada skala provinsi, akan tetapi PDI-P Jatim telah menunjukkan keberhasilannya dalam pemanasan mesin partai maupun menjaga konsistensi basis dukungan kolektif maupun basis dukungan fanatik partai.


#pilkada
#jatim
#jawatimur
#2018
#avenjanuar
#pdip
#pdiperjuangan
#trirismaharini
#bambangdh
#pramonoanung
#eddyrumpoko
#kanang
#budisulistyono 

Sabtu, 23 Januari 2016

Pravendi Januarsa : Globalisasi dalam Tinjauan Kritis Soekarno











Pravendi Januarsa : Globalisasi dalam Tinjauan Kritis Soekarno

……yang sebagian besar menggantungkan diri pada kerjasama dengan modal asing secara konvensionil adalah tidak sesuai dengan prinsip “Berdiri diatas kaki sendiri”…..(“Berdikari”-amanat Bung Karno dalam Pembukaan Sidang MPRS 11 April 1965)

Itulah Sedikit ramalan Bung Karno tentang kemungkinan bahwa adanya bantuan asing telah menciptakan ketidakmandirian Bangsa, serta secara tidak sadar telah menghancurkan masa depan dari suatu Bangsa yang serba tergantung tersebut. Hal ini yang harus menjadi perenungan bersama tentang Pembangunan Ekonomi yang tak terpengaruh oleh pola intervensi negara-negara kuat.

Sekarang ini sulit rasanya bagi kita untuk menghindar dari pengaruh globalisasi, hampir semua aspek kehidupan terimbas oleh globalisasi. Hal ini ditunjang juga oleh kemajuan teknologi komunikasi sehingga memungkinkan semakin hilangnya batas-batas Negara. Kemerdekaan Republik Indonesia yang diraih dengan susah payah dan pengorbanan jiwa raga pendiri Republik ini untuk mencapai kedaulatan negara justru saat ini batas-batas kedaulatan tersebut telah tersisihkan oleh arus Globalisasi.

Oleh karena itu penulis hendak mengetengahkan sebuah refleksi kritis kemunculan Globalisasi hingga jawaban kritis Bung Karno dalam penyikapan yang reflektif, evaluatif tetapi tetap memiliki kekuatan riil dalam menjawab Problem-problem utama yang muncul dalam Globalisasi. Yang terpenting adalah Bagaimana thesa Bung Karno dalam membangun kemandirian Bangsa Indonesia yang mungkin saat ini merupakan thesa dalam keterpurukan Bangsa Indonesia.

Globalisasi yang menyesatkan

Globalisasi dalam arti politik merupakan wujud dari hegemoni baru negara-negara Pemilik Modal dalam kerangka Penguasaan Negara-Negara Nirmodal. Menurut catatan Wallstreet Journal,1997 73% kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikuasai oleh 7 Negara Kuat (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Korea Selatan dan Belanda) sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan penguasaan kepada negara-negara selatan pada sektor teknologi hingga 20 tahun kedepan. Globalisasi merupakan manifestasi dari berkembangnya sistem ekonomi pasar yang berkembang pada pertengahan tahun 1960-an yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan beberapa negara besar di Eropa Barat.

………prinsip yang harus diikuti ialah prinsip persamaan kedaulatan bagi semua bangsa, hal mana tentunya tidak lain dan tidak bukan merupakan penggunaan hak azasi manusia dan hak-hak azasi nasional. Bagi Semua Bangsa-Bangsa harus ada satu dasar, dan semua Bangsa harus menerima dasar itu, demi perlindungan dirinya dan demi keselamatan manusia…….(“To Build The World Anew”-Pidato Bung Karno dihadapan Sidang Umum PBB ke-XV 30 Spetember 1960)

Dalam hal Globalisasi ini, Bung Karno menyatakan garis-garis yang tegas dalam Hubungan Kausalitas antar negara yang terjadi, batasan itu adalah penegakan hak segala bangsa yang dinamakan Hak Azasi Manusia. Hal ini mencegah terjadinya proses kausalitas yang ekploitatif yang tidak mengindahkan adanya kedaulatan politik suatu negara.

Batas antar negara yang semakin tipis dikarenakan kemajuan arus transfer kerjasama Internasional telah menciptakan ruang-ruang baru bagi negara-negara besar untuk semakin meningkatkan pengurasan Sumber Daya Alam pada negara-negara dunia ketiga. Yang mana salah satu dari negara dunia ketiga tersebut adalah Indonesia. Warga Bangsa pun tidak menyadari pada pola negara-negara besar tersebut untuk melakukan penguasaan pada berbagai sektor. Jika ini terus berlangsung maka seterusnya kita akan tergantung kepada negara lain. Indonesia berdasar pada tahun 2000 yaitu 68% penduduknya hidup dari sektor pertanian(agraris) dan sudah seharusnya kita mampu mencukupi kebutuhan pangan kita sendiri akan tetapi sejak pertengahan tahun 1997 hingga sekarang untuk menutupi kebutuhan Beras dalam Negeri Pemerintah Indonesia harus mendatangkan Beras Impor walaupun variabel jumlahnya tidak menentu. Hal ini membuktikan bahwa ketergantungan kita pada kebutuhan pokok dari negara lain, belum lagi adanya Gula Impor dan yang lain, secara tidak sadar Bahwa Negara Adidaya telah memperdayai kita dengan cara yang sangat halus. Dan hubungan yang diciptakan oleh negara adidaya bukanlah manifestasi dari hubungan produktif melainkan hubungan yang ekploitatif. Akhirnya Indonesia negeri yang kaya raya akan “dimiskinkan” dengan berbagai cara oleh negara lain. Hal ini mengalami kemunduran yang sangat hebat, seperti apa yang telah dikatakan oleh Soekarno :

……kita sekarang bangsa yang dihormati oleh kawan-kawan kita dan disegani oleh lawan-lawan. Kita sekarang bukan hanya bangsa yang diperhitungkan tetapi kita SANGAT diperhitungkan…..(“Capailah Bintang-bintang dilangit/Tahun Berdikari”-Pidato Bung Karno Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1965)

Dalam hal penghormatan tersebut yang menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Bangsa yang besar, mampu membangun kepercayaan diri dalam kerjasama Internasional. Dan bukan seperti yang tergambarkan beberapa tahun belakang (khususnya sejak pertengahan 1990-an hingga saat ini) bahwa Kita dinyatakan sebagai Bangsa Peminta-minta dikarenakan pertambahan setiap tahunnya Hutang luar Negeri Kita. Artinya sudah saatnya kita kembali merenungi tentang amanat Bung Karno, membangun kembali keterpurukan kita, yang harus dinyatakan bersama oleh kebulatan tekad seluruh Rakyat Indonesia.

Trisakti Bung Karno Benteng Globalisasi

Kita semua yakin bahwa derasnya arus globalisasi kita semua tidak menginginkan implikasi buruk yang dihasilkan oleh Globalisasi seperti yang disebutkan diatas. Oleh karena itu mari kita renungi kembali Tujuan Negara yang diamanatkan oleh Pendiri Negeri dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang “asli” sebelum diamandemen khususnya alinea ke-IV ;

……kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Bangsa Indonesia itu dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia…….

Untuk mewujudkan tujuan negara tersebut, Bung Karno telah mengeluarkan amanat Pelaksanaanya yang termaktub disebut sebagai Trisakti, yaitu :
1. Berdaulat Dalam Bidang Politik;
2. Berdikari dalam Ekonomi;
3. Berkepribadian dalam Budaya;

Trisakti Bung Karno berisikan 3 hal pokok dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang mana jika para pembaca mendalami bisa menjadi pelajaran terpenting dalam melakukan antisipasi terhadap implikasi buruk yang ditimbulkan oleh Globalisasi. Dalam hal ini penulis juga tidak menginginkan adanya mitos-isasi terhadap ajaran Bung Karno, akan tetapi Penulis berusaha untuk mengajak kepada seluruh Pembaca untuk merenungi langkah terbaik ketika kita semua, Bangsa Indonesia mengalami keterpurukan selama beberapa tahun terakhir ini dan mungkin Trisakti Bung Karno adalah langkah riil yang bisa menghantarkan kita semua kedalam Kemandirian perekonomian Bangsa.

Berdaulat dalam Bidang Politik

Hampir 62 tahun lamanya Bangsa Indonesia melakukan Perjalanan Sejarah, dan dalam hal ini banyak jatuh Bangun berusaha untuk mempertahankan kedaulatan politik Republik Indonesia. Sebelum Kemerdekaan para pahlawan Bangsa Indonesia, pendiri Republik serta para pejuang nasional lainnya harus meregang nyawa untuk merebut kedaulatan politik yaitu, kemerdekaan. Saat ini Bangsa Indonesia telah memiliki kedaulatan politik yang secara de jure dan de facto sah maka sudah selayaknya kita berusaha untuk mempertahankan kedaulatan politik dari kesewenang-wenangan Bangsa Lain yang ada di seluruh dunia. Dalam artian yang jelas bahwa derasnya Globalisasi yang mampu meluluhlantakan kehormatan suatu negara, hal ini yang harus kita cegah. Karena Bung Karno sebagai salah satu pendiri Republik Ini telah menyatakan :

……kita cinta damai tetapi kita lebih cinta kemerdekaan (“Sekali Merdeka Tetap Merdeka”-Pidato Bung Karno 17 Agustus 1946)

Dalam artian pokok pikiran Bung Karno bahwa Bangsa Indonesia membuka seluas-luasnya terhadap segala bentuk kerjasama dari Negara Lain. Akan tetapi dalam pola kerjasama tersebut adalah kausalitas yang tidak eksploitatif sehingga dapatnya merusak hakekat kedaulatan Politik Republik Indonesia. Kedaulatan Politik suatu Negara adalah hal pokok dalam pendirian suatu negara, karena kedaulatan politik dilatarbelakangi oleh kontrak sosial bersama seluruh Rakyat Indonesia. Jika adanya beberapa tahun belakang ini, kita menyadari adanya intervensi asing dalam beberapa kebijakan negara khususnya dalam pengelolaan Sumber Daya Alam, hendaknya menjadi perenungan bagi seluruh Pemimpin Negara bahwa hal itu bisa menjadi ancaman yang serius terhadap kedaulatan politik kita. Kita harus menyadari bahwa kelemahan kita khususnya Sumber Daya Manusia dalam hal Pengelolaan Sumber Daya Alam, akan tetapi bukan berarti selanjutnya kita bergantung dalam hal Pengelolaan SDA terhadap Tenaga Ahli Asing. Sudah sewajarnya langkah Pemimpin Negara adalah melakukan Pembinaan yang serius terhadap Sumber Daya Manusia sehingga dapatnya menjadi Tonggak Penting penegakan Kedaulatan Politik kita. Belum Lagi pada sektor yang lain, perusahaan-perusahaan konvensional yang berdiri di belahan negeri memiliki kecenderungan yang tinggi untuk penggunaan Tenaga Ahli Asing, hal ini menjadi awal bencana Kedaulatan Politik Kita.

Bung Karno telah lama sekali meramalkan adanya Penjajahan model baru, akan tetapi karena perubahan rezim serta iklim politik yang ada maka memang diperlukan kebesaran hati kita untuk memulai bersama sebuah ide besar yang pernah terlahit di negeri ini untuk kembali meraih Kedaulatan Politik kita.

Berdikari dalam Ekonomi

……untuk membangun suatu negara yang demokratis, maka satu ekonomi yang merdeka yang harus dibangun. Tanpa ekonomi yang merdeka, tak mungkin kita mencapai kemerdekaan, tak mungkin kita mendirikan negara, tak mungkin kita tetap hidup……..(“Berdiri Diatas Kaki Sendiri” – Pidato Bung Karno dihadapan Sidang Umum MPRS ke-III 11 April 1965)

Amanat Politik Bung Karno mengandung pesan yang terdalam tentang kemandirian ekonomi Bangsa Indonesia. Penegakan kemandirian ekonomi tersebut merupakan cerminan upaya terbaik Negara dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang berlandaskan pada kesejahteraan sosial masyarakat. Nusantara diakui oleh banyak negara tentang kekayaan alam yang tersebar dari sabang hingga merauke, dari pulau We hingga Pulau Rote. Negeri kepulauan yang mengandung Minyak Bumi, Gas Alam, Granit, Marmer, Pasir Besi, Bauksit, aspal dan lain-lain. Dari Kekayaan alam tersebut jika digunakan setinggi-tingginya demi kemakmuran rakyat seperti yang termaktub dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 (asli) maka dapatnya kita memiliki kekuatan ataupun modal dasar dalam pelaksanaan Pembangunan. Seperti contoh boom minyak pada pertengahan hingga akhir 1970-an, pada saat itu kita memiliki akumulasi modal yang lumayan besar, akan tetapi karena pemerintahan pada saat itu Corrupt dan pemerintahan saat itu tidak memiliki visi untuk menjalankan amanat penderitaan rakyat maka kita pun tak bisa menghindari adanya krisis ekonomi pada awal 1980-an yang mendorong masuknya hutang luar negeri pada awal 1980-an hingga akhirnya menimbulkan krisis ekonomi pada pertengahan 1990-an dikarenakan hutang luar negeri tersebut memiliki jatuh tempo pembayaran yang sama.

Bangsa Indonesia sebagai Negara-Bangsa (Nation-State) telah memiliki kekuatan yang utama dalam hal memecahkan problem dasar perekonomian yaitu sandang dan pangan kita. Sebagai Negara Agraris, kita memiliki cukup Pangan untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi mengapa kita harus Meng-Impor Beras, jelas disitu ada praktek politik Pangan yang menjerumuskan produktivitas petani-petani kita. Belum lagi kekayaan kita terhadap SDA yang lain, tebu yang bisa menghasilkan gula serta tanaman pokok yang lain. Tetapi mengapa kita tak bisa memiliki kemandirian perekonomian, hal ini justru menjadi bertolak belakang dengan penggalian yang dalam oleh Bung Karno tentang wajah negeri Nusantara yang kaya ini.

Permasalahan Sumber Daya Manusia memang menjadi sumber permasalahan utama saat kita hendak melakukan pengelolaan Sumber Daya Alam secara mandiri. Hal ini bisa diatasi jika Pemerintahan memiliki visi yang jelas dalam menyusun kebijakan Sistem Pendidikan Nasional serta kebijakan lain yang terkait dengan Pengembangan SDM. Di tengah arus globalisasi saat ini, jika tidak segera dilaksanakan sistem pengembangan SDM yang berkesinambungan maka kita pun sebagai Bangsa akan terlibas oleh kekuatan SDM dari negara yang lain.Kita menyadari dalam perjalanan sejarah Bangsa bahwa budaya pertanian telah membangun semangat Rakyat Indonesia untuk Bekerja Keras dan Rajin, hal ini adalah modal utama dari Pengembangan SDM yang dilakukan menuju kemandirian ekonomi seperti apa yang diharapkan oleh Bung Karno. Seperti pesan Bung Karno,

……kita harus benar-benar berdiri teguh dan berpegang erat-erat pada prinsip “Berdiri diatas kaki Sendiri”, percaya pada kekuatan sendiri. Hal ini tidak bisa lain daripada keharusan untuk menjadikan kekuatan-kekuatan ekonomi kita yang riil-nyata sebagai landasan utama dalam menciptakan iklim-ekonomi yang kita perlukan…………( “Berdiri Diatas Kaki Sendiri” – Pidato Bung Karno dihadapan Sidang Umum MPRS ke-III 11 April 1965)

Berkepribadian dalam Budaya

Serangkaian serangan Budaya Asing melalui Globalisasi adalah merupakan salah satu upaya untuk menggoyang kepribadian Bangsa Indonesia. Harus kita sadari bersama bahwa dengan adanya kemajuan teknologi informasi menyebabkan transfer kebudayaan lintas negara sangat cepat dan tak dapat dihentikan. Anak-anak muda sangat rentan terhadap transfer budaya tersebut. Dimulai dari budaya pakaian hingga pola perilaku baru yang tercipta. Melalui berbagai media elektronik yang ada baik televisi maupun teknologi internet. Kita semua sebagai warga Bangsa tak menyadari bahwa itu menodai kepribadian Bangsa, padahal menurut Bung Karno kita masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat yang disebut Nation and Character Building. Bagaimana upaya untuk menciptakan Karakter khas Bangsa Indonesia. Yang terutama terbangun sejak Beratus-ratus tahun lamanya. Kebudayaan yang berkarakter kuat dan tegas serta memiliki keberpihakan yang jelas terhadap amanat penderitaan rakyat. Sebagaimana mungkin Budaya Asing yang memiliki implikasi buruk terhadap keseluruhan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia haruslah ditolak.

Kerukunan Nasional Bangsa Indonesia yang terbangun dari susunan keseluruhan umat beragama yang ada di Indonesia. Budaya kerukunan yang anti diskriminasi berlandaskan sesuai dengan Pancasila 1 Juni 1945 yang digali oleh Bung Karno. Dalam Nation and Character Building , menjadi tanggungjawab bersama seluruh warga Bangsa Indonesia untuk menyusun kembali serpihan Budaya Nasional Indonesia. Dimulai dari gotong Royong, kerukunan nasional dan lain-lain yang merupakan wujud akar tradisi masyarakat Indonesia.

Melalui pembangunan Kepribadian Budaya kita dapat kembali mendapatkan posisi yang terhormat dalam Hubungan Internasional. Kepribadian Budaya dimulai dari lingkungan kepribadian terkecil yaitu, keluarga ataupun komunitas terkecil yang ada di dalam masyarakat.

……telah masyhur dimana-mana, sampai diluar negeri sekalipun, bahwa jiwa Gotong Royong adalah salah satu corak daripada kepribadian Indonesia. Tidak ada satu negeri dikolong langit ini yang disitu gotong royong adalah satu kenyataan hidup didesa-desa, satu living reality, seperti di Indonesia ini. Tidak ada satu bangsa yang didalam hidup-keagamaannya begitu toleran seperti Bangsa Indonesia ini…..(“Jalannya Revolusi Kita-JAREK”-Amanat Bung Karno Hari Proklamasi 17 Agustus 1960)

Bung Karno Memberi Jawaban

Ketika menghadapi keterpurukan Bangsa Indonesia, kita semua sebagai warga dari Negeri Nusantara memang harus merenungi kembali Pokok-pokok pikiran utama Bung Karno termasuk didalamnya tentang uraian yang jelas Globalisasi maupun langkah kedepan. Membangun Kemandirian Bangsa dalam cerminan mewujudkan Tujuan Negara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 (asli) alinea ke-IV yaitu terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Globalisasi tak bisa dihindari akan tetapi globalisasi bisa dilunakkan. Membangun Semangat Bersama untuk kemandirian Bangsa. Wassalam.


Contact Penulis : avenjatim@gmail.com

Riwayat Organisasi :
1998-2000 Ketua Solidaritas Mahasiswa untuk Pembebasan Rakyat (SMPR)
2001-2002 SekJen BEM FISIP UNAIR
2002-2003 Presidium Nasional Komite Pendidikan Bersama Indonesia (KPBI)
2004-2005 Presidium Komite Mega Rakyat Jawa Timur (KMR)
2010 - 2015 Ketua Departemen Pemuda DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Sumber Berita :